Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Hari Raya dalam Islam: Antara Kesempurnaan Syariat dan Bahaya Tasyabbuh kepada Yahudi dan Nasrani

Pendahuluan Islam adalah agama yang sempurna. Seluruh aspek ibadah, mu‘amalah, hingga syi‘ar agama telah ditetapkan oleh Allah Ta‘ala melalui wahyu-Nya kepada Nabi Muḥammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di dalamnya adalah perkara hari raya, yang bukan sekadar tradisi sosial, namun bagian dari syi‘ar agama. Fenomena yang marak di tengah kaum Muslimin hari ini adalah menjamurnya berbagai perayaan tahunan, peringatan hari-hari tertentu, bahkan pengagungan momentum-momentum yang tidak memiliki dasar dalam syariat. Padahal, Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan batasan yang jelas dalam perkara ini. Kesempurnaan Agama dan Sikap Orang Yahudi Allah Ta‘ala berfirman: ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗا “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridai Islam sebagai agama kalian.” (QS. al-Ma’idah: 3) Dalam sebuah hadits yang sangat...

Meluruskan Makna Toleransi dalam Islam: Tegas dalam Tauhid, Adil dalam Akhlak

Pendahuluan Belakangan ini, istilah toleransi sering digunakan secara berlebihan hingga melanggar batas-batas akidah. Bahkan, menjelang hari yang diyakini sebagian orang sebagai hari “Tuhan memiliki anak” — na‘ūdzu billāh — muncul ajakan agar kaum Muslimin ikut menampakkan simpati atas nama toleransi. Padahal, Islam memiliki konsep toleransi yang jelas, terukur, dan tidak pernah mengorbankan tauhid. Ayat yang Seakan Dibalik Maknanya: Kesalahan Fatal dalam Memahami Toleransi Sebagian orang menyebarkan slogan seolah-olah Al-Qur’an mengajarkan kelembutan kepada kekufuran dan ketegasan kepada sesama Muslim. Ini jelas bertentangan dengan nash. Allah Ta‘ala berfirman: مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ “Muhammad adalah Rasul Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, namun berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29) Urutannya tidak boleh dibalik: Asyiddā’u ‘alal-kuffār → tegas terhadap ...

Indahnya Pertemanan karena Allah di Balik Beratnya Ujian Jiwa

Mukadimah Pertemanan karena Allah bukanlah pertemanan yang dibangun di atas kepentingan, kesamaan selera, atau keuntungan duniawi. Ia berdiri di atas landasan iman dan ketaatan. Justru karena itu, sering kali pertemanan karena Allah terasa lebih berat, lebih menuntut, dan tidak selalu tampak indah di awal. Banyak orang mampu berteman karena kesamaan hobi, bisnis, atau hawa nafsu duniawi. Namun, ketika pertemanan itu diikat dengan keimanan, maka akan hadir konsekuensi: saling menasihati, saling mengingatkan, menahan ego, dan belajar mengalah. ><><><>< 1. Harus Saling Menasihati, Padahal Hati Tidak Enakan Di antara ciri paling menonjol dari pertemanan karena Allah adalah adanya nasihat. Nasihat bukan tambahan, tetapi inti. Allah Ta‘ala berfirman: > وَالْعَصْرِ • إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ • إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, ke...

Kasihan ibumu dek, atas tingkahmu ini!

Belakangan ini beredar pernyataan bernada rasis yang menghina suku Sunda, dilakukan oleh seseorang yang diketahui berstatus mahasiswa. Sebab ilmu, gelar, dan status akademik tidak otomatis melahirkan adab. Ilmu Tanpa Akhlak: Musibah yang Nyata Dalam Islam, ilmu seharusnya: menumbuhkan tawadhu’ memperhalus lisan menjaga kehormatan sesama muslim Namun ketika ilmu terlepas dari adab, yang lahir justru: Penghinaan Kesombongan Rasisme Ini bukan kemajuan, tapi kemunduran akhlak. Islam Mengharamkan Mencela Suku dan Kaum Allah Ta‘ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ  “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain," (QS. Al-Hujurāt: 11) Ayat ini mencakup seluruh bentuk ejekan: Suku Ras Bahasa Adat Tanpa pengecualian. Rasisme adalah Warisan Jahiliyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: > دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ “Tinggalkan fanatisme suku itu, karena ia busuk.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) Rasi...

Larangan Memakai Cincin di Jari Telunjuk dan Tengah

 (Studi Hadits & Qorinah Shahih dalam Fiqh Sunnah) Di tengah masyarakat, masih sering terdengar klaim bahwa  memakai cincin di jari tengah atau jari manis itu dilarang  dalam Islam. Bahkan sebagian mengira bahwa larangan berlaku pada jari manis. Namun, benarkah demikian? Tulisan singkat ini akan mengulas  hadits shahih ,  qorinah (indikasi kuat)  dalam riwayat, serta  penjelasan ulama  terkait jari mana yang sebenarnya dilarang untuk dikenakan cincin. 1. Hadits Shahih Tentang Larangan Cincin di Dua Jari Dari علي بن أبي طالب رضي الله عنه, beliau berkata: نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَجْعَلَ الْخَاتَمَ فِي هَذِهِ وَهَذِهِ (Sambil beliau menunjuk jari telunjuk dan jari tengah) Artinya: “Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  melarangku memakai cincin pada jari ini dan ini.” (lalu beliau menunjuk jari  telunjuk  dan jari  tengah ) HR. Muslim no. 2078, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’...