Kasihan ibumu dek, atas tingkahmu ini!
Belakangan ini beredar pernyataan bernada rasis yang menghina suku Sunda, dilakukan oleh seseorang yang diketahui berstatus mahasiswa.
Sebab ilmu, gelar, dan status akademik tidak otomatis melahirkan adab.
Ilmu Tanpa Akhlak: Musibah yang Nyata
Dalam Islam, ilmu seharusnya:
menumbuhkan tawadhu’
memperhalus lisan
menjaga kehormatan sesama muslim
Namun ketika ilmu terlepas dari adab, yang lahir justru:
Penghinaan
Kesombongan
Rasisme
Ini bukan kemajuan, tapi kemunduran akhlak.
Islam Mengharamkan Mencela Suku dan Kaum
Allah Ta‘ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain,"
(QS. Al-Hujurāt: 11)
Ayat ini mencakup seluruh bentuk ejekan:
Suku
Ras
Bahasa
Adat
Tanpa pengecualian.
Rasisme adalah Warisan Jahiliyah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
> دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ
“Tinggalkan fanatisme suku itu, karena ia busuk.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Rasisme, walaupun dibungkus candaan, satire, atau “kebebasan berekspresi”, tetap busuk di sisi syariat.
Kemuliaan Bukan pada Identitas, Tapi Takwa
Allah Ta‘ala berfirman:
> إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurāt: 13)
Islam tidak menghapus perbedaan suku,
tapi menghapus kesombongan atasnya.
Penutup
Kasus ini seharusnya menjadi cermin, bukan sekadar bahan amarah.
Bahwa pendidikan tinggi tanpa adab adalah kegagalan.
Bahwa lisan yang kotor tidak bisa dibenarkan dengan status apa pun.
Semoga Allah memperbaiki akhlak generasi kita, menjaga lisan-lisan kaum muslimin, dan menjauhkan kita dari jahiliyah dalam bentuk apa pun.
> Wallāhu a‘lam.
Komentar
Posting Komentar