Meluruskan Makna Toleransi dalam Islam: Tegas dalam Tauhid, Adil dalam Akhlak

Pendahuluan
Belakangan ini, istilah toleransi sering digunakan secara berlebihan hingga melanggar batas-batas akidah. Bahkan, menjelang hari yang diyakini sebagian orang sebagai hari “Tuhan memiliki anak” — na‘ūdzu billāh — muncul ajakan agar kaum Muslimin ikut menampakkan simpati atas nama toleransi. Padahal, Islam memiliki konsep toleransi yang jelas, terukur, dan tidak pernah mengorbankan tauhid.

Ayat yang Seakan Dibalik Maknanya: Kesalahan Fatal dalam Memahami Toleransi

Sebagian orang menyebarkan slogan seolah-olah Al-Qur’an mengajarkan kelembutan kepada kekufuran dan ketegasan kepada sesama Muslim. Ini jelas bertentangan dengan nash.
Allah Ta‘ala berfirman:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Muhammad adalah Rasul Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, namun berkasih sayang sesama mereka.”
(QS. Al-Fath: 29)
Urutannya tidak boleh dibalik:
Asyiddā’u ‘alal-kuffār → tegas terhadap kekufuran
Ruḥamā’u bainahum → lembut kepada kaum beriman

Islam Memerintahkan Akhlak, Bukan Loyalitas Akidah
Ketegasan terhadap kekufuran bukan berarti berbuat zalim. Islam tetap memerintahkan keadilan dan kebaikan dalam muamalah.
Allah Ta‘ala berfirman:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ
“Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama…”
(QS. Al-Mumtahanah: 8)
Namun pada ayat berikutnya, Allah melarang wala’ (loyalitas) kepada kekufuran (QS. Al-Mumtahanah: 9).
Berbuat baik: wajib.
Meridhai akidah: haram.
Keyakinan “Tuhan Memiliki Anak” adalah Kekufuran Nyata

Islam tidak bersikap abu-abu dalam masalah tauhid. Keyakinan bahwa Allah memiliki anak adalah kekufuran yang sangat besar.
Allah Ta‘ala berfirman:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ
(QS. Al-Mā’idah: 72)
Dan firman-Nya:
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ۝ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا
(QS. Maryam: 88–89)
Serta penutup yang sangat tegas:
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
(QS. Al-Ikhlash: 3)
Maka ikut merayakan, mengucapkan selamat, atau menampakkan keridhaan terhadap perayaan berbasis keyakinan ini bukan toleransi, tetapi kompromi terhadap tauhid.


Penjelasan Ulama Ahlus Sunnah
1. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق
“Mengucapkan selamat terhadap syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram berdasarkan kesepakatan ulama.”
(Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim)

2. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Memberi ucapan selamat atas hari raya mereka sama seperti mengucapkan selamat atas sujud kepada salib.”
(Ahkām Ahlidz-Dzimmah)
3. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:
“Tidak boleh seorang Muslim ikut serta dalam perayaan orang-orang kafir, karena itu termasuk ridha terhadap kekufuran.”

Islam adalah agama yang adil tanpa kompromi akidah
Lembut tanpa meridhai syirik
Tegas dalam tauhid, mulia dalam akhlak

Toleransi yang benar bukan mencampuradukkan tauhid dan kekufuran, tetapi menjaga akhlak sambil berlepas diri dari kesyirikan.

Manhaj Salaf: lurus dalam keyakinan, adil dalam muamalah, tegas tanpa zalim.
Semoga Allah menjaga kita dari toleransi yang kebablasan dan meneguhkan kita di atas tauhid hingga akhir hayat. Āmīn.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Aneh Jika Iran Menyerang Total Yahudi?

Hari Raya dalam Islam: Antara Kesempurnaan Syariat dan Bahaya Tasyabbuh kepada Yahudi dan Nasrani

Serial Bantahan Ilmiah: Kutipan Palsu atas Nama ‘Ali bin Abi Thalib (Bagian 1)