ZAKAT ADALAH HAQ, PAJAK ADALAH BATIL

Telaah Syar’i atas Dua Sistem Keuangan
Oleh : Abu Aisyah As-Sabtiyah




Pendahuluan

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Zakat adalah ibadah besar yang menjadi salah satu rukun Islam. Ia memiliki landasan syar’i yang kuat dari Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’ ulama. Adapun pajak (الضريبة), pada dasarnya adalah kewajiban finansial ciptaan manusia dan kerap dijadikan pengganti zakat secara paksa. Dalam tulisan ini kita akan membahas secara ilmiah bahwa zakat adalah kewajiban yang haq dan pajak adalah kewajiban yang batil jika menggantikan zakat atau diberlakukan tanpa syarat-syarat syar’i.




I. Zakat: Kewajiban Syar’i yang Haq

1. Dalil dari Al-Qur’an

قال الله تعالى:

> وَأَقِيمُوا ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا ٱلزَّكَوٰةَ
“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.”
(سورة البقرة: ٤٣)



Perintah ini berulang dalam Al-Qur’an lebih dari 30 kali. Ini menunjukkan bahwa zakat adalah rukun penting dalam Islam, sejajar dengan shalat.

2. Dalil dari Sunnah

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

> بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ البَيْتِ
"Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah."
(رواه البخاري ومسلم)



3. Ijma’ Ulama

قال ابن قدامة رحمه الله:

> وأجمع المسلمون على وجوب الزكاة، وإنما أنكرها طوائف خرجوا بذلك عن الإسلام، قاتلهم أبو بكر الصديق وسائر الصحابة، وكانوا مانعي الزكاة، فدل على أنهم كفار
"Kaum muslimin telah berijma’ atas wajibnya zakat. Yang mengingkarinya adalah kelompok yang keluar dari Islam. Abu Bakar dan para sahabat memerangi mereka yang enggan membayar zakat, yang menunjukkan bahwa mereka dianggap kafir."
(المغني لابن قدامة، ٢/٤٣١)






II. Pajak: Pungutan Batil tanpa Dalil Syar’i

1. Definisi Pajak

Pajak (الضريبة) adalah pungutan finansial oleh negara yang tidak memiliki dalil dari Al-Qur’an maupun Sunnah, dan tidak memiliki batas kadar dan penerima yang tetap. Di banyak negeri muslim, pajak telah menggantikan zakat dan bahkan mengabaikannya.

2. Haramnya Memungut Harta tanpa Hak

قال النبي صلى الله عليه وسلم:

> لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ
"Tidak halal harta seorang muslim diambil kecuali dengan kerelaannya."
(رواه أحمد وأبو داود، وصححه الألباني)



3. Hadits tentang Pemungut Pajak (al-Muks)

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

> صَاحِبُ الْمَكْسِ فِي النَّارِ
"Pemungut pajak (al-muks) tempatnya di neraka."
(رواه أحمد وأبو داود، وصححه الألباني)



المَكْس adalah setiap pungutan harta dari kaum muslimin tanpa hak yang syar’i.

4. Penjelasan Ulama

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله:

> وأما أخذ المال بغير حقه، كالمكوس التي يأخذها الملوك من بيوت الأموال ونحوها، فهو من الظلم المحرم باتفاق المسلمين
"Adapun mengambil harta tanpa hak, seperti pajak yang diambil oleh para penguasa dari kaum muslimin, maka itu termasuk kezaliman yang diharamkan dengan kesepakatan kaum muslimin."
(مجموع الفتاوى، ٢٨/٧٨)






III. Perbedaan Antara Zakat dan Pajak

Berikut adalah perbedaan penting antara zakat dan pajak:

1. Sumber hukum

Zakat: Bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’.

Pajak: Bersumber dari aturan dan undang-undang manusia.



2. Penerima

Zakat: Terbatas pada 8 golongan (asnaf) sesuai QS. At-Taubah: 60.

Pajak: Bebas, sesuai keputusan pemerintah.



3. Kadar (besaran)

Zakat: Tetap (2,5% untuk zakat mal, 10% untuk hasil pertanian, dst.).

Pajak: Tidak tetap, bergantung pada kebijakan negara.



4. Tujuan

Zakat: Ibadah untuk menyucikan harta dan membantu fakir miskin.

Pajak: Sumber pendapatan negara.



5. Pengelolaan

Zakat: Dikelola oleh baitul mal atau lembaga zakat berdasarkan syariat.

Pajak: Dikelola oleh instansi negara.



6. Sifat kewajiban

Zakat: Ibadah dan rukun Islam, jika ditunaikan berpahala.

Pajak: Administratif, tidak memiliki nilai ibadah secara syar’i.



7. Dasar pengambilan

Zakat: Dengan dasar iman dan syariat.

Pajak: Berdasarkan paksaan hukum positif.







IV. Kapan Pajak Dibolehkan?

Menurut sebagian ulama seperti Ibnu Taimiyyah rahimahullah, pajak dapat dipungut dalam keadaan darurat dengan syarat-syarat ketat, di antaranya:

1. Tidak ada pemasukan lain dalam baitul mal.


2. Untuk kebutuhan besar seperti jihad atau bencana.


3. Bersifat sementara dan harus dihapus setelah kondisi pulih.


4. Tidak melebihi kadar yang wajar.


5. Diambil dari orang-orang kaya saja.



قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله:

> فإن الإمام العادل إذا احتاج إلى مال ولم يكن في بيت المال ما يقوم بحاجته، فهل له أن يوظف على الناس ما يقوم به مصلحة عمله؟ فيه قولان، أرجحهما: أن له ذلك، إذا كانت الحاجة ماسة
"Jika imam yang adil membutuhkan dana namun tidak tersedia dalam baitul mal, bolehkah ia memungut dari rakyat? Ada dua pendapat. Yang rajih: ia boleh memungut jika memang dalam keadaan darurat."
(مجموع الفتاوى، ٢٨/٧٩)



Namun jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, maka pajak tetap termasuk bentuk kezaliman yang haram.




V. Sikap Seorang Muslim

Menunaikan zakat adalah kewajiban syar’i dan berpahala.

Pajak tidak boleh dianggap sebagai pengganti zakat.

Seorang muslim harus menyuarakan penegakan sistem zakat dan menolak sistem pajak yang zalim.




Penutup

Zakat adalah sistem ekonomi ilahiyah yang membersihkan harta dan menolong fakir miskin. Adapun pajak adalah sistem manusiawi yang sering kali batil dan penuh kezaliman. Maka wajib bagi kaum muslimin untuk mengokohkan sistem zakat dan menolak dominasi pajak yang tidak sesuai dengan syariat.

نسأل الله أن يرزقنا فقهًا في الدين، وأن يعز الإسلام والمسلمين، ويذل الشرك والمشركين، وأن يجعلنا من أنصار الحق والدين.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya dalam Islam: Antara Kesempurnaan Syariat dan Bahaya Tasyabbuh kepada Yahudi dan Nasrani

Kasihan ibumu dek, atas tingkahmu ini!

Mengadakan kegiatan outdoor lalu dibumbui menuntut ilmu syar'i? Jelas ini dari haroki bukan salafi!