Fitnah Dunia dan Prioritas Seorang Mukmin
Mukadimah
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh pengikutnya yang setia di atas sunnah hingga hari kiamat.
Di tengah hiruk-pikuk berita dunia—perang, konflik geopolitik, perebutan kekuasaan, dan saling ancam antarnegara—seorang mukmin dituntut untuk memiliki bashirah (pandangan iman). Tidak larut dalam kegaduhan dunia, tidak pula buta terhadap realita, namun mampu menempatkan segala sesuatu pada porsinya.
Dunia: Sementara dan Menipu
Allah Ta‘ala telah menjelaskan hakikat dunia dengan sangat gamblang:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan yang tetap kekal hanyalah Wajah Rabb-mu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.”
(QS. Ar-Rahman: 26–27)
Segala kekuatan dunia—negara adidaya, senjata canggih, aliansi militer, dan kekuasaan politik—akan sirna. Tidak ada satu pun yang abadi. Dunia hanyalah tempat ujian, bukan tempat peristirahatan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir.”
(HR. Al-Bukhari)
Fitnah Akhir Zaman dan Sikap Seorang Mukmin
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa di akhir zaman akan muncul berbagai fitnah yang bertubi-tubi, mengguncang iman manusia. Fitnah itu bukan hanya berupa peperangan, tetapi juga:
Fitnah pemikiran (syubhat)
Fitnah syahwat
Fitnah kekuasaan dan popularitas
Dalam kondisi seperti ini, keselamatan bukan terletak pada banyaknya informasi yang kita konsumsi, tetapi pada kokohnya iman dan lurusnya manhaj.
Para salaf rahimahumullah menasihatkan agar seorang mukmin lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada tenggelam dalam urusan yang tidak mampu ia ubah.
Prioritas Utama Seorang Mukmin
Di antara perkara yang jauh lebih penting dibanding seluruh gejolak dunia adalah:
Menjaga aqidah yang lurus di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman salafush shalih.
Mengokohkan tauhid, membersihkannya dari segala bentuk syirik besar maupun kecil.
Istiqamah dalam ibadah, baik yang wajib maupun sunnah.
Menuntut ilmu syar‘i sebagai cahaya penuntun di tengah gelapnya fitnah.
Memperbaiki akhlak terhadap keluarga, tetangga, dan sesama muslim.
Mempersiapkan akhirat, karena itulah negeri yang kekal.
Allah Ta‘ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian; tidak akan membahayakan kalian orang yang sesat apabila kalian telah mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Ma’idah: 105)
Tidak Anti Realita, Namun Tidak Terperdaya
Islam tidak mengajarkan kita untuk buta terhadap realita dunia. Seorang mukmin boleh mengetahui kabar dunia sekadar menambah kewaspadaan dan pelajaran, bukan untuk menumbuhkan ketakutan, kebencian, atau kegelisahan berlebihan.
Hati yang hidup adalah hati yang selalu kembali kepada Allah, bukan hati yang setiap hari dipenuhi kecemasan akibat berita dunia.
Penutup
Segala kejadian dunia akan berlalu. Yang tersisa hanyalah amal shalih dan keimanan. Beruntunglah orang yang menjadikan dunia di tangannya, bukan di hatinya.
Semoga Allah Ta‘ala menjaga iman kita di tengah fitnah zaman, menetapkan kita di atas sunnah hingga akhir hayat, dan mengumpulkan kita bersama hamba-hamba-Nya yang shalih di surga-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Komentar
Posting Komentar