Fenomena Langit di Akhir Tahun dan Renungan Seorang Muslim
Langit yang membiru, awan yang tertata indah, serta gunung yang tampak jelas dan megah di penghujung tahun sering menghadirkan pemandangan yang begitu memikat. Pada momen-momen seperti itu, seorang hamba tentu dituntut untuk memperbanyak rasa syukur kepada Al-Khāliq dan Al-Qadīr, Rabb yang menciptakan seluruh keindahan tersebut tanpa cela.
Namun, kebahagiaan dalam menikmati ciptaan Allah tidak boleh membuat kita lalai dari rasa takut kepada-Nya. Keindahan alam yang terlihat begitu terang di akhir tahun kadang justru menimbulkan kekhawatiran: jangan-jangan alam ini sedang “marah”, dan bahwa bencana yang terjadi merupakan bentuk peringatan dari Allah ﷻ.
Terutama ketika memasuki akhir tahun Masehi. Di saat itulah sebagian kaum Nasrani menyebut dan merayakan keyakinan bahwa Tuhan memiliki anak — na‘ūdzu billāh, sebuah ucapan yang begitu dahsyat kebatilan dan kezalimannya. Allah sendiri mengingatkan dalam Surat Maryam ayat 89–90:
تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا • أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا
“Hampir-hampir langit pecah karenanya, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, sebab mereka menyatakan bahwa Yang Maha Pemurah mempunyai anak.”
Ayat ini menggambarkan betapa berat dan besarnya dosa ucapan tersebut, sampai-sampai langit, bumi, dan gunung hampir hancur karena kemurkaan terhadap perkataan yang melampaui batas ini.
Sayangnya, Sebagian Kaum Muslimin Ikut Terseret
Syubhat ini kini telah merasuk ke sebagian kaum Muslimin. Dengan alasan “toleransi”, “sopan santun”, atau “sekadar ucapan”, sebagian dari mereka turut mengucapkan perkataan yang sangat berbahaya itu, yang hakikatnya merupakan persetujuan terhadap kekufuran yang Allah murkai.
Padahal toleransi tidak menuntut seorang Muslim untuk menyetujui atau turut mengucapkan keyakinan agama lain. Bahkan, perayaan tersebut justru merupakan puncak kedustaan yang mengundang murka Allah ﷻ.
Ketika Bencana Muncul di Saat yang Sama
Ironisnya, pada tanggal 28–29 November 2025 ini, telah muncul berbagai kabar tentang bencana alam di wilayah ujung Sumatera dan beberapa daerah di Pulau Sumatera. Guncangan, longsor, hingga banjir dilaporkan terjadi di beberapa titik.
Tidak ada yang mengetahui secara pasti sebab khusus dari setiap musibah, karena itu adalah urusan Allah ﷻ semata. Namun seorang mukmin berhak mengambil ibrah — bahwa bencana bisa jadi merupakan bentuk peringatan agar manusia kembali kepada Rabb-nya. Terlebih lagi, ketika musibah tersebut muncul berdekatan dengan waktu perayaan keyakinan yang sangat dimurkai Allah, maka rasa takut dan muhasabah pun layak ditingkatkan.
Penutup
Keindahan alam di akhir tahun seharusnya membawa kita pada dua perasaan sekaligus: syukur atas nikmat Allah dan takut akan murka-Nya. Kita berharap semoga Allah menjaga negeri ini dari bencana dan dari syubhat yang berbahaya bagi akidah kaum Muslimin. Semoga Allah mengokohkan hati kita di atas tauhid, menjauhkan kita dari segala ucapan yang mengandung kekufuran, dan memberikan keselamatan bagi kaum Muslimin di mana pun berada.
Komentar
Posting Komentar