Ujian yang Umumnya Dirasakan oleh Kaum Muslimin Setelah Hijrah dan Mengaji Sunnah (Salafiyah)



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Sesungguhnya hidayah kepada sunnah adalah nikmat yang sangat besar, namun ia tidak datang tanpa ujian. Banyak kaum muslimin yang telah hijrah dan mulai meniti jalan salaf merasakan tantangan-tantangan yang datang bukan hanya dari dalam diri, tetapi juga dari lingkungan sekitar mereka. Ini adalah hal yang wajar dan telah dijelaskan oleh para ulama, bahwa jalan kebenaran itu tidak dilalui oleh mayoritas manusia dan penuh dengan cobaan.

Syaikh al-Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh berkata:

> "وَالصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ فِي الدُّنْيَا هُوَ مَا بُعِثَ بِهِ الرُّسُلُ مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى، وَمِنَ السُّنَّةِ وَالشَّرِيعَةِ، وَفِي الْآخِرَةِ هُوَ الطَّرِيقُ الْمُؤَدِّي إِلَى الْجَنَّةِ."

"Shirāṭul mustaqīm di dunia adalah apa yang dibawa oleh para rasul berupa petunjuk dan keterangan yang jelas, berupa sunnah dan syari’at. Dan di akhirat ia adalah jalan menuju surga."
(Majmū‘ al-Fatāwā 1/329)



Di antara ujian paling nyata bagi seorang muslim yang mulai mengaji dan meniti manhaj salaf adalah ketika ia hidup di tengah masyarakat yang mayoritas belum mengenal ilmu syar'i dan belum memahami sunnah secara benar. Beberapa bentuk ujian tersebut antara lain:


---

1. Timpangnya Adab Bertetangga: Musik Keras dan Suara Mengganggu

Kita dapati sebagian tetangga masih menganggap biasa menyetel musik dengan volume tinggi. Bahkan dianggap sebagai bentuk hiburan, tanpa memikirkan kenyamanan orang lain. Padahal, dari sisi agama dan juga etika sosial, hal itu sangat tidak layak dilakukan.

Padahal, Islam mengajarkan untuk menjaga hak-hak tetangga. Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

> "مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ."

"Jibril senantiasa mewasiatkan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapatkan hak waris."
(HR. al-Bukhari no. 6014, Muslim no. 2625)



Adapun musik, maka hukum yang rajih adalah haram, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama berdasarkan dalil-dalil yang kuat, di antaranya:

> وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْـحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ...
"Dan di antara manusia (ada) orang yang membeli lahwal-hadīts (perkataan yang tidak berguna) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu..."
(QS. Luqmān: 6)



Ibnul Qayyim rahimahullāh berkata:

> "لَهْوَ الْـحَدِيثِ هُوَ الْغِنَاءُ بِاتِّفَاقِ الْمُفَسِّرِينَ."

"Lahwal-hadīts adalah nyanyian (musik), berdasarkan kesepakatan para ahli tafsir."
(Ighātsah al-Lahfān, 1/258)




---

2. Bahaya Asap Rokok yang Diremehkan

Masyarakat sudah sangat terbiasa dengan asap rokok. Bahkan sebagian dari mereka menyadari bahayanya, tetapi tetap saja merokok di tempat umum dan di sekitar orang lain.

Padahal, merokok tidak hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga mengganggu orang lain. Islam tidak mengizinkan seseorang menimpakan bahaya kepada orang lain.

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

> "لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ."

"Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain."
(HR. Ibnu Mājah no. 2341, shahih)



Majelis Fatwa Lajnah Dā’imah di Arab Saudi memfatwakan bahwa merokok hukumnya haram, karena mengandung mudarat yang besar, baik bagi pelaku maupun orang di sekitarnya.


---

3. Mengobrol dengan Suara Keras Tanpa Memperhatikan Adab

Sebagian orang biasa berbicara dengan suara keras, baik saat kumpul keluarga maupun bersama tetangga. Mereka menganggap itu biasa dan tidak sadar bahwa hal tersebut mengganggu lingkungan.

Padahal Allah Ta‘ālā berfirman:

> وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْـحَمِيرِ

"Rendahkanlah suaramu; sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai."
(QS. Luqmān: 19)



Al-Imam al-Qurthubi rahimahullāh berkata:

> "فِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ مُسْتَقْبَحٌ فِي الْعُقُولِ."

"Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa meninggikan suara itu dibenci secara akal dan tabiat."
(Tafsīr al-Qurṭubī 14/104)




---

4. Anak-anak Bermain Sebebasnya dan Mengganggu Lingkungan

Tidak sedikit orang tua membiarkan anak-anak mereka bermain tanpa kontrol, seperti main bola di jalan, berteriak, bahkan kadang merusak barang orang lain tanpa disadari. Sementara Islam memerintahkan tanggung jawab dalam mendidik anak-anak.

Allah Ta‘ālā berfirman:

> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."
(QS. At-Taḥrīm: 6)




---

5. Fenomena Sosial Lainnya yang Mengganggu Kenyamanan

Seperti hajatan yang menutup jalan umum, parkir kendaraan sembarangan, pohon yang tidak dirawat dan merambah ke rumah tetangga, dan lain-lain. Semua ini adalah perkara yang perlu diluruskan dengan ilmu dan adab.

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

> "لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ."

"Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri."
(HR. al-Bukhari no. 13, Muslim no. 45)




---

Penutup

Fenomena-fenomena seperti ini adalah bagian dari ujian setelah hijrah. Kita harus bersabar, tetap berakhlak mulia, dan terus menjadi teladan yang baik. Jangan lupa mendoakan saudara-saudara kita agar Allah beri hidayah kepada mereka.

> اللَّهُمَّ اهْدِنَا وَاهْدِ بِـنَا، وَاجْعَلْنَا سَبَبًا لِمَنِ اهْتَدَى
"Ya Allah, berilah kami petunjuk dan jadikan kami sebagai sebab petunjuk bagi orang lain."



Semoga tulisan singkat ini bisa menjadi renungan bagi kita semua, dan semoga Allah Ta‘ālā memudahkan seluruh kaum muslimin di negeri ini untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam.

والله أعلم، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Aneh Jika Iran Menyerang Total Yahudi?

Hari Raya dalam Islam: Antara Kesempurnaan Syariat dan Bahaya Tasyabbuh kepada Yahudi dan Nasrani

Serial Bantahan Ilmiah: Kutipan Palsu atas Nama ‘Ali bin Abi Thalib (Bagian 1)