Syukur atas Nikmat yang Biasa, Jangan Hanya Menunggu yang Luar Biasa

Pendahuluan

Di dalam rumah tangga, sering kali pasangan suami istri terjebak dalam rutinitas dan lupa mensyukuri nikmat yang hadir setiap hari. Ketika sesuatu sudah terbiasa dilihat, terasa biasa pula di hati—hingga lupa bahwa di balik kebiasaan itu terdapat nikmat yang sangat besar.

Contoh Realita Rumah Tangga

Ambillah contoh nyata: seorang suami menyediakan tempat tinggal yang layak, pakaian bersih, makanan cukup, dan fasilitas rumah tangga yang memadai. Namun, sang istri merasa "kurang" karena tidak mendapat hadiah atau kejutan yang dianggap istimewa. Ia lupa bahwa yang paling penting adalah nikmat-nikmat harian yang telah Allah mudahkan melalui tangan suaminya. Bukankah itu semua adalah bentuk cinta dan tanggung jawab?

Tinjauan Keimanan: Melihat Keajaiban dalam yang Sering Terlewat

Realita ini serupa dengan sikap sebagian manusia terhadap nikmat Allah. Mereka terkagum-kagum dengan kisah-kisah menakjubkan seperti Ashabul Kahfi, namun lalai terhadap keajaiban yang ada di sekitarnya: matahari terbit dan tenggelam tepat waktu, air mengalir dari pegunungan, udara yang tak pernah berhenti, hingga detak jantung yang tak pernah istirahat. Semua itu adalah ayat-ayat Allah yang luar biasa—namun terlewat karena dianggap "biasa".



Dalil-Dalil Syukur dalam Al-Qur’an dan Hadits

1. Allah Ta’ala berfirman:



> وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
(QS. Ibrahim: 7)



2. Allah Ta’ala juga berfirman:



> وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
"Dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"
(QS. Adz-Dzariyat: 21)



3. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:



> انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian."
(HR. Muslim no. 2963)





Kutipan Ulama tentang Syukur atas Nikmat yang Terbiasa

1. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

> "Nikmat-nikmat yang besar terkadang tidak terasa karena keberulangannya dan kebiasaannya, padahal nikmat yang terus-menerus itu lebih layak untuk disyukuri."
(Madarijus Salikin, 2/246)



2. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di rahimahullah menjelaskan:

> "Jika seorang hamba mengingat nikmat Allah yang tidak terhitung dan tidak terhingga, lalu ia menimbang nikmat itu dengan amalnya, maka ia akan malu kepada Allah karena banyaknya kekurangan dalam syukur dan ketaatannya."
(Taisir Karimir Rahman, tafsir QS. Ibrahim: 7)





Penutup: Jadilah Hamba yang Bersyukur Sejak dalam Hal yang Kecil

Nikmat yang luar biasa bukan hanya yang datang sesekali dan tampak mencolok. Justru yang luar biasa adalah nikmat yang Allah hadirkan setiap saat—dan itu sering kali tidak kita sadari. Mari latih hati kita agar lebih peka terhadap nikmat harian: bangun dalam keadaan sehat, makan yang cukup, masih bisa mencium orang tua dan anak, bahkan bisa melihat mentari pagi.

Dalam kehidupan rumah tangga pun, janganlah kita hanya menuntut kejutan dari pasangan. Nikmatilah kebaikan yang ia berikan setiap hari. Ucapkan terima kasih, tanamkan syukur, dan jagalah cinta melalui penghargaan atas hal-hal yang kecil.

> “Barang siapa tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri yang banyak.”
(HR. Ahmad dalam Musnad-nya, dengan sanad hasan)



Wallahu a’lam wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Aneh Jika Iran Menyerang Total Yahudi?

Hari Raya dalam Islam: Antara Kesempurnaan Syariat dan Bahaya Tasyabbuh kepada Yahudi dan Nasrani

Serial Bantahan Ilmiah: Kutipan Palsu atas Nama ‘Ali bin Abi Thalib (Bagian 1)