Peringatan terhadap Keyakinan Sialnya Hari ‘Āsyūrā’ dan Penjelasan Kebatilannya Berdasarkan Dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, dan Perkataan Para Ulama


مقدمة

الحمد لله الذي أكمل لنا الدين، وأتم علينا النعمة، ورضي لنا الإسلام دينًا، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه، وسلم تسليمًا كثيرًا، أما بعد:

Sesungguhnya Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah menyempurnakan agama ini dan menjadikannya petunjuk bagi seluruh umat manusia. Di antara bentuk penyimpangan dari kesempurnaan agama ini adalah munculnya berbagai keyakinan batil dan kebiasaan yang tidak bersumber dari wahyu, salah satunya adalah menganggap hari ‘Āsyūrā’ (10 Muharram) sebagai hari sial atau petaka, yang harus dihindari, ditangisi, atau dijadikan sebagai hari berkabung.

Tulisan ini akan menjelaskan kebatilan keyakinan tersebut, serta menampilkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang menjelaskan keutamaan hari ‘Āsyūrā’, serta bantahan terhadap pengaruh Rafidhah dalam menyebarkan kebid‘ahan pada hari tersebut.




1. Keyakinan Sialnya Hari ‘Āsyūrā’ adalah Warisan Jahiliyyah dan Bid‘ah

Sebagian orang menganggap hari ‘Āsyūrā’ sebagai hari petaka karena wafatnya al-Ḥusain bin ‘Alī رضي الله عنهما pada hari itu. Mereka tidak mengadakan pernikahan, tidak keluar rumah, bahkan memakai pakaian hitam dan melakukan ratapan duka, karena menganggap hari itu sial dan penuh kesedihan.

Ini adalah keyakinan batil yang diwarisi dari ajaran Syi‘ah Rafidhah, yang kemudian meresap ke dalam sebagian kaum muslimin yang tidak mengerti agama.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah menegaskan dalam firman-Nya:

> قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا
"Katakanlah: tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami."
(QS. At-Taubah: 51)



Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

> لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ
“Tidak ada penularan (tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (kesialan), tidak ada hāmah, dan tidak ada (kesialan bulan) Shafar.”
(HR. al-Bukhāri no. 5757, Muslim no. 2220)



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

> وَأَمَّا الطِّيَرَةُ بِالشُّهُورِ كَصَفَرٍ وَمُحَرَّمٍ فَبَاطِلَةٌ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ.
“Adapun merasa sial dengan bulan Shafar atau Muharram, maka itu batil berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.”
(Majmū‘ al-Fatāwā, 26/312)



Syaikh Ṣāliḥ al-Fauzān hafizhahullāh juga menegaskan:

> “Menganggap hari atau bulan tertentu sebagai hari sial, seperti 10 Muharram atau hari kematian seseorang, ini adalah keyakinan yang batil dan termasuk syirik kecil jika diyakini membawa pengaruh.”
(Al-Muntaqā, 2/54)






2. Hari ‘Āsyūrā’ adalah Hari yang Diberkahi, Bukan Hari Sial

Islam tidak menetapkan hari ‘Āsyūrā’ sebagai hari duka. Justru, Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai hari penuh berkah, dengan menyuruh umat Islam untuk berpuasa padanya.

> صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
“Puasa pada hari ‘Āsyūrā’, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu.”
(HR. Muslim no. 1162)



> كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، عَلَى غَيْرِهِ مِنَ الْأَيَّامِ
“Rasulullah ﷺ sangat bersemangat untuk berpuasa pada hari ‘Āsyūrā’ dibandingkan hari-hari lainnya.”
(HR. al-Bukhāri no. 2006)



Maka mustahil hari yang penuh pengampunan dosa ini dianggap hari kesialan. Anggapan seperti itu adalah penyimpangan dari tuntunan Nabi dan berasal dari pengaruh ajaran sesat.




3. Tragedi Karbala Bukan Dalil untuk Meratapi Hari ‘Āsyūrā’

Al-Ḥusain bin ‘Alī رضي الله عنهما wafat sebagai syahid pada 10 Muharram tahun 61 H. Namun, para sahabat tidak pernah menjadikan hari itu sebagai hari ratapan atau kesedihan. Bahkan Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam sendiri telah melarang sikap meratapi kematian.

> لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar pipi, merobek baju, dan berseru dengan seruan jahiliyah.”
(HR. al-Bukhāri no. 1294, Muslim no. 103)



Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

> وأما اتخاذ يوم عاشوراء مأتماً كما تفعله الرافضة، فهو من عمل من ضل سعيه في الحياة الدنيا، وهو خلاف ما شرعه رسول الله ﷺ وأمر به
“Menjadikan hari ‘Āsyūrā’ sebagai hari duka sebagaimana perbuatan Rafidhah adalah amalan orang yang sia-sia usahanya di dunia, dan bertentangan dengan syariat Rasulullah ﷺ.”
(Al-Manār al-Munīf, hlm. 74)






4. Sikap Salaf Terhadap Rafidhah dan Ajarannya

Para ulama salaf memiliki sikap keras terhadap Rafidhah karena banyaknya kebid‘ahan dan kedustaan mereka, termasuk menghidupkan kesedihan dan ratapan pada hari ‘Āsyūrā’.

Imām Mālik rahimahullāh berkata:

> لا تكلمهم، ولا ترو عنهم، فإنهم يكذبون
“Jangan berbicara dengan mereka dan jangan meriwayatkan dari mereka, karena mereka pendusta.”
(Al-Mīzān, 1/5)



Imām Aḥmad rahimahullāh berkata:

> من شتم أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم لا نُؤمّنه على شيءٍ من دين المسلمين
“Barang siapa mencela sahabat Nabi ﷺ, maka kami tidak percaya padanya dalam urusan agama.”
(As-Sunnah al-Khallāl, no. 724)



Maka menghidupkan tradisi ratapan, mengenakan hitam-hitam, dan menjauhi pernikahan pada hari ‘Āsyūrā’ adalah tasyabbuh dengan Rafidhah dan bentuk bid‘ah munkarah.




Penutup dan Doa

Demikianlah penjelasan tentang kebatilan keyakinan sialnya hari ‘Āsyūrā’, dan bahwa Islam telah menjadikannya sebagai hari yang mulia dengan syariat puasa, bukan dengan ratapan dan kesedihan.

Kita memohon kepada Allah agar diberikan taufiq untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya dan tidak tergelincir dalam kebid‘ahan dan tasyabbuh kepada orang-orang sesat.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا، وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا، وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

“Ya Allah, tampakkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran, dan karuniakanlah kami kemampuan untuk mengikutinya. Tampakkanlah pula kebatilan sebagai kebatilan, dan karuniakanlah kami kemampuan untuk menjauhinya.”

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.




Referensi:

1. Al-Qur’an: QS. At-Taubah: 51


2. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī: no. 5757, 1294, 2006


3. Ṣaḥīḥ Muslim: no. 103, 1162, 2220


4. Majmū‘ al-Fatāwā – Ibnu Taimiyyah, 26/312


5. Al-Muntaqā min Fatāwā al-Fauzān, 2/54


6. Al-Manār al-Munīf – Ibnul Qayyim, hlm. 74


7. Al-Mīzān – Al-Dzahabī, 1/5


8. As-Sunnah – al-Khallāl, no. 724


9. Fath al-Bārī – Ibn Ḥajar


10. Sharḥ al-Sunnah – al-Barbahārī


11. I‘tiqād Ahlis Sunnah – Al-Lālikā’ī




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Aneh Jika Iran Menyerang Total Yahudi?

Hari Raya dalam Islam: Antara Kesempurnaan Syariat dan Bahaya Tasyabbuh kepada Yahudi dan Nasrani

Serial Bantahan Ilmiah: Kutipan Palsu atas Nama ‘Ali bin Abi Thalib (Bagian 1)