MENJAGA KEMURNIAN IBADAH KURBAN DI ZAMAN PENUH BID‘AH
Oleh: Abu Aisyah As-Sabtiyah
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang telah menyempurnakan agama-Nya dan menjadikannya jalan keselamatan bagi siapa yang mengikutinya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam, penutup para nabi dan rasul, beserta keluarga dan para sahabat beliau yang mulia.
Zaman terus berjalan menjauh dari masa kenabian. Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa akan muncul banyak perselisihan dan kebid‘ahan dalam agama ini seiring berlalunya waktu. Maka, setiap bentuk ibadah pada masa ini senantiasa membutuhkan kehati-hatian, karena potensi penyimpangan dan bid‘ah sangatlah besar. Hal ini termasuk dalam pelaksanaan ibadah kurban, yang banyak diselewengkan oleh tambahan-tambahan dan amalan-amalan yang tidak diajarkan dalam syariat.
Peringatan Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam tentang Bahaya Bid‘ah
Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
> **فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ**
> _“Sesungguhnya siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafā’ Rāsyidīn yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap bid‘ah itu adalah kesesatan.”_
> (HR. Abū Dāwūd no. 4607, at-Tirmidzī no. 2676 – hasan shahih)
---
Ucapan Ulama Salaf tentang Bahaya Bid‘ah
1. Imam Mālik rahimahullāh
> **مَنْ أَحْدَثَ فِي الْإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً، فَقَدِ ادَّعَى أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللهَ يَقُولُ: ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ، فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا، فَلَا يَكُونُ ٱلۡيَوۡمَ دِينًا**
> _“Barang siapa membuat-buat bid‘ah dalam Islam yang ia anggap baik, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah mengkhianati risalah, karena Allah berfirman: _'Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian'_. Maka apa yang tidak dianggap agama pada hari itu, tidak akan menjadi agama hari ini.”_
> (al-I‘tiṣām, asy-Syāṭibī, 1/49)
2. Imam al-Auzā‘ī rahimahullāh
> **عَلَيْكَ بِآثَارِ مَنْ سَلَفَ، وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ، وَإِيَّاكَ وَآرَاءَ الرِّجَالِ، وَإِنْ زَخْرَفُوهُ بِالْقَوْلِ**
> _"Hendaknya engkau tetap di atas atsar (jejak) salaf, walaupun manusia menolakmu. Dan jauhilah pendapat-pendapat manusia, walaupun mereka menghiasinya dengan perkataan yang indah."_
> (al-Ibānah, Ibn Bathṭhah, 1/188)
---
Bentuk-Bentuk Bid‘ah dalam Pelaksanaan Kurban
Seiring menjauhnya zaman dari masa kenabian, muncul berbagai tambahan dalam pelaksanaan kurban yang tidak ada tuntunannya dalam syariat. Di antaranya:
1. Membacakan doa-doa khusus sebelum penyembelihan yang tidak berasal dari Nabi.
2. Menggunakan dupa, bunga, atau sesajen sebelum atau sesudah penyembelihan.
3. Menyembelih dengan menyebut nama selain Allah, seperti nama leluhur atau tokoh keramat.
4. Mengadakan acara “kirim doa” setelah penyembelihan, dengan keyakinan tertentu terhadap darah kurban.
5. Membaca Yāsīn, Al-Fātiḥah, Ayat Kursi sebelum menyembelih, padahal tidak pernah dicontohkan.
Semua ini termasuk bid‘ah yang tertolak berdasarkan hadits Nabi:
> _“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang tidak berasal darinya, maka ia tertolak.”_
> (HR. al-Bukhārī no. 2697, Muslim no. 1718)
---
Contoh Doa Penyembelihan yang Tidak Ada Nash Shahihnya
Berikut beberapa contoh lafadz yang tidak ada asalnya dalam sunnah :
“اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ هَذِهِ الْأُضْحِيَةَ مِنْ فُلَانٍ وَأَهْلِ بَيْتِهِ، كَمَا تَقَبَّلْتَ مِنْ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ”
“بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِ اللهِ”
“اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا كَفَّارَةً لِذُنُوبِي”
Membaca Yāsīn, Al-Fātiḥah, Ayat Kursi sebelum menyembelih
Yang disyariatkan hanyalah:
> بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُ أَكْبَرُ
> (“Bismillāh, Allahu Akbar”)
>
> (HR. al-Bukhārī no. 5558, Muslim no. 1966)
Fatwa Ulama Kontemporer
Syaikh ‘Abdul ‘Azīz bin Bāz رحمه الله
> _“Yang disyariatkan dalam penyembelihan adalah membaca ‘Bismillāh’ dan ‘Allāhu Akbar’. Tidak boleh menambahkan doa-doa lain yang tidak berasal dari Nabi, karena itu termasuk menambah-nambahkan agama.”_
> (Fatāwā Nūr ‘alā ad-Darb)
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat حفظه الله
> _"Yang sudah jelas dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak perlu ditambah-tambah. Kita ikuti sebagaimana datangnya. Sebab menambah dalam ibadah adalah bentuk perusakan terhadap syariat."_
> (Pelajaran Fiqih al-Uḍḥiyah, Radio Rodja, 1436 H)
Penutup
Ibadah kurban adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah dan manifestasi tauhid yang tinggi. Maka hendaknya dilakukan sesuai dengan syariat, tidak ditambah dan tidak dikurangi. Setiap bentuk ibadah dalam Islam harus sesuai dengan dalil, dan semua yang tidak berasal dari sunnah Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah tertolak.
Semoga Allah memberi kita taufiq untuk senantiasa ittibā‘ kepada sunnah dan menjauh dari segala bentuk kebid‘ahan.
Daftar Pustaka
1. Al-Qur’ān al-Karīm.
2. Shahīh al-Bukhārī.
3. Shahīh Muslim.
4. Sunan Abī Dāwūd.
5. Sunan at-Tirmidzī.
6. Al-I‘tiṣām, asy-Syāṭibī.
7. Al-Ibānah, Ibn Bathṭhah al-‘Uqbari.
8. Fatāwā Nūr ‘alā ad-Darb, bin Bāz.
9. Pelajaran Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat حفظه الله.
Komentar
Posting Komentar