Makna Sejati "Rahmatan Lil ‘Alamin" dan Kaitannya dengan Jihad
البيان الحق في معنى "رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ" وموقف الشريعة من الجهاد في سبيل الله
مقدمة
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، وسلم تسليمًا كثيرًا.
Amma ba‘d:
Sesungguhnya Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah mengutus Nabi-Nya Muḥammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman-Nya dalam Kitab-Nya yang mulia:
> وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
"Dan tidaklah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."
(QS. Al-Anbiyā’: 107)
Ayat ini merupakan dalil yang agung atas keluasan rahmat yang dibawa oleh Nabi kita shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, sebagian manusia — karena keterbatasan ilmu atau terpengaruh oleh syubhat pemikiran modernis — memahami bahwa makna “rahmat” dalam ayat tersebut semata-mata adalah kelembutan dan toleransi kepada seluruh manusia, bahkan kepada para musuh yang telah menyatakan permusuhan terhadap Islam dan kaum muslimin.
Padahal hakikat rahmat yang dibawa oleh Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam mencakup seluruh aspek syariat — baik dalam bentuk dakwah, hukum-hukum Islam, maupun jihad fi sabilillāh — yang semua itu bertujuan menyelamatkan umat manusia dari kegelapan kufur dan kesesatan menuju cahaya tauhid dan petunjuk.
Makna Rahmat yang Sempurna
Rahmat yang dibawa oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bukanlah sekadar kelembutan dalam tutur kata, atau menahan diri dari sikap tegas terhadap kebatilan. Namun rahmat beliau adalah membimbing manusia kepada kebenaran, menyelamatkan mereka dari adzab Allah, dan menegakkan keadilan serta menghilangkan kezaliman di muka bumi.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
> "فَالرَّسُولُ رَحْمَةٌ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ، حَتَّى جِهَادُهُ وَقِتَالُهُ كَانَ رَحْمَةً، فَإِنَّهُ بِذَلِكَ أُرْسِلَ"
"Rasulullah adalah rahmat dalam seluruh keadaannya, bahkan jihad dan peperangannya adalah rahmat. Karena dengan itulah beliau diutus."
(Majmū‘ al-Fatāwā, 19/62)
Jihad Termasuk Rahmat
Termasuk bentuk rahmat yang sempurna adalah diperintahkannya jihad fi sabilillah, yakni berperang melawan orang-orang kafir yang menolak kebenaran setelah sampai hujjah kepada mereka. Tujuan jihad bukanlah untuk mencari harta atau kemuliaan dunia, melainkan agar kalimat Allah menjadi tinggi dan manusia terbebas dari peribadatan kepada sesama makhluk menuju peribadatan hanya kepada Allah.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata:
> "وأعظم الجهاد جهاد الكفار والمنافقين، وهو رحمة بهم أيضًا، لأن فيه إيصال الخير إليهم أو كفّ شرهم."
“Jihad yang paling agung adalah jihad melawan orang-orang kafir dan munafik. Itu pun termasuk rahmat kepada mereka, karena di dalamnya terdapat penyampaian kebaikan kepada mereka atau penolakan keburukan mereka.”
(Ad-Durar al-Saniyyah, 8/123)
Tahapan Penegakan Rahmat: Dakwah – Jizyah – Qital
Syariat Islam telah menjelaskan bahwa sebelum dilakukannya perang, kaum musyrikin atau Ahlul Kitab diajak terlebih dahulu kepada Islam, lalu jika mereka enggan maka ditawarkan untuk tunduk dengan membayar jizyah. Jika tetap menolak dan memerangi Islam, maka saat itu disyariatkan qital (perang).
Sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:
> قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir, yang tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan tidak beragama dengan agama yang benar, yaitu dari kalangan orang-orang yang diberi Kitab, sampai mereka membayar jizyah dengan tangan mereka dalam keadaan tunduk.”
(QS. At-Taubah: 29)
Bukti Rahmat dalam Syariat Jihad
Ketika jihad disyariatkan, Islam meletakkan adab dan batasan yang tegas: tidak boleh membunuh anak-anak, wanita, orang tua, pendeta yang tidak memerangi, tidak boleh membakar pohon atau rumah penduduk, dan tidak boleh menyiksa mayat. Ini semua menunjukkan bahwa bahkan dalam kondisi perang pun, syariat Islam penuh dengan rahmat dan keadilan.
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
> اغزوا باسم الله، في سبيل الله، قاتلوا من كفر بالله... لا تقتلوا امرأة ولا صبيًّا ولا كبيرًا فانيًا
"Berperanglah kalian dengan nama Allah, di jalan Allah. Perangilah orang-orang yang kufur kepada Allah... dan janganlah kalian membunuh wanita, anak kecil, maupun orang tua yang telah renta."
(HR. Abū Dāwūd no. 2614. Hadits hasan)
Penutup
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa makna "rahmatan lil ‘alamin" bukanlah penghalang terhadap jihad dan hukum-hukum Islam yang tegas, tetapi justru jihad itu sendiri termasuk dari bentuk rahmat Allah bagi umat manusia, karena dengan jihad:
Syirik dihancurkan
Tauhid ditegakkan
Manusia diselamatkan dari kekekalan di neraka
Dan semua itu adalah rahmat yang agung yang Allah kehendaki sampai ke seluruh penjuru bumi melalui risalah Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam.
نسأل الله أن يعز الإسلام والمسلمين، ويذل الشرك والمشركين، ويجعلنا من المجاهدين في سبيله بإخلاص واتباع، وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Referensi:
1. Al-Qur’an: QS. Al-Anbiyā’: 107, At-Taubah: 29
2. Majmū‘ al-Fatāwā karya Ibnu Taimiyyah, 19/62
3. Ad-Durar al-Saniyyah karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, 8/123
4. Madarij al-Sālikīn karya Ibnul Qayyim, 2/158
5. Tafsīr Ibnu Katsīr dan Tafsīr as-Sa‘dī untuk QS. Al-Anbiyā’: 107
6. HR. Abū Dāwūd no. 2614, dinyatakan hasan oleh Al-Albani
Komentar
Posting Komentar