Jika Merasa Aman; Buktikan Rasa Syukur Atas Nikmat Manhaj dengan Beramal

 

Merasa Aman dari Penyimpangan adalah Sebuah Tipu Daya

Seorang yang benar-benar memahami nilai manhaj salaf akan selalu merasa takut akan penyimpangan dan terus mengharap perlindungan dari Allah. Perasaan ini bukan tanda kelemahan, justru inilah tanda kejujuran iman dan kehati-hatian seorang hamba terhadap penyakit hati yang tersembunyi.

Allah Ta'ala berfirman:

فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
"Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi."
(QS. Al-A‘rāf: 99)

Ketika seseorang mulai merasa aman dari penyimpangan, maka saat itu ia telah membuka celah untuk tergelincir. Seperti yang dikatakan oleh Sufyān ats-Tsaurī rahimahullah:

"إنما العلم عندنا الخوف"
“Sesungguhnya ilmu menurut kami adalah rasa takut (kepada Allah).”

Semakin dalam seseorang dalam ilmu dan manhaj, seharusnya semakin besar pula rasa takutnya terhadap penyimpangan, karena ia tahu betapa mudahnya hati ini berubah.


Syukur atas Manhaj Salaf adalah dengan Amal, Bukan Klaim

Sebagian orang merasa cukup dengan label dan identitas “salafi” atau “ahlussunnah”, namun tidak memeliharanya dalam adab, amal, dan akhlak. Padahal hidayah itu harus disyukuri, bukan hanya diklaim.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan tambahkan nikmat kepada kalian.”
(QS. Ibrāhīm: 7)

Bagaimana bentuk syukur terhadap nikmat hidayah manhaj?

  1. Menjaga keikhlasan dan tidak ujub

  2. Beramal dengan ilmu dan dakwah dengan hikmah

  3. Menjauhi sebab-sebab penyimpangan dan penyakit hati

  4. Terus berdoa dan takut akan tergelincir

Seperti doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keteguhan dalam perkara ini (agama), dan kesungguhan dalam petunjuk.”
(HR. an-Nasā’ī dalam as-Sunan al-Kubrā, no. 10407, hasan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Aneh Jika Iran Menyerang Total Yahudi?

Hari Raya dalam Islam: Antara Kesempurnaan Syariat dan Bahaya Tasyabbuh kepada Yahudi dan Nasrani

Serial Bantahan Ilmiah: Kutipan Palsu atas Nama ‘Ali bin Abi Thalib (Bagian 1)