Jangan Terlena dengan Status “Sudah Mengaji Sunnah”

Di antara bentuk kelalaian yang halus namun berbahaya adalah merasa aman hanya karena telah mengikuti kajian sunnah, mengenal manhaj salaf, dan merasa “sudah berada di jalan yang lurus.” Padahal, hidayah bukan milik mutlak manusia. Ia berada di tangan Allah, dan bisa saja dicabut kapan saja jika seorang hamba tidak menjaga hatinya dengan rendah hati dan takut kepada-Nya.

قُلْ إِنَّ الْهُدَىٰ هُدَى اللَّهِ
"Katakanlah, sesungguhnya petunjuk itu hanyalah petunjuk Allah..."
(QS. Al-Baqarah: 120)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

"ما من القلب شيء أنفع له من إخلاص الحق ومحبته وإيثاره، فإن القلب يفارقه ذلك فسد وضل"
“Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati selain mengikhlaskan (agama) kepada kebenaran, mencintainya dan mengutamakannya. Jika hati kehilangan itu, maka ia akan rusak dan sesat.”
(Majmū’ al-Fatāwā, 14/283)

Banyak kisah nyata orang yang dulu istiqamah di atas sunnah, namun kemudian berpaling kepada hawa nafsu dan bid’ah. Apa penyebabnya? Mereka lengah, merasa aman, dan berhenti memohon keistiqamahan.

Al-Fudail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:

"خوفك من أن لا تقبل التوبة، أشد من الذنب نفسه"
“Rasa takutmu bahwa tobatmu tidak diterima itu lebih berat daripada dosa yang kau lakukan.”

Maka jangan pernah sombong berkata, “Saya sudah ngaji sunnah.” Bahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam—seorang nabi sekaligus kekasih Allah—pun berdoa:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي
“Ya Rabb, jadikanlah aku dan anak keturunanku orang-orang yang tetap mendirikan salat.”
(QS. Ibrahim: 40)

Jika para nabi saja memohon keistiqamahan, maka kita lebih butuh. Karena bisa saja seseorang hari ini di atas sunnah, tapi besok Allah cabut hidayahnya karena ujub dan ghurur (merasa aman).

Imam Ahmad rahimahullah sering berdoa:

"اللَّهُمَّ تَوَفَّنَا عَلَى الإِسْلَامِ وَالسُّنَّةِ"
“Ya Allah, wafatkanlah kami di atas Islam dan sunnah.”

Kesimpulan

Hidayah adalah anugerah, dan manhaj salaf adalah karunia. Maka syukurilah dengan terus belajar, terus memohon kepada Allah agar diteguhkan di atas jalan ini.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
(HR. Tirmidzi no. 3522, hasan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Aneh Jika Iran Menyerang Total Yahudi?

Hari Raya dalam Islam: Antara Kesempurnaan Syariat dan Bahaya Tasyabbuh kepada Yahudi dan Nasrani

Serial Bantahan Ilmiah: Kutipan Palsu atas Nama ‘Ali bin Abi Thalib (Bagian 1)