JANGAN LUPA SHALAT DI HARI RAYA KURBAN






Peringatan atas Kelalaian di Hari Tasyrik

> "Hari tasyrik adalah hari makan, minum dan mengingat Allah."
(HR. Muslim no. 1141)



Alangkah indahnya hari-hari tasyrik: udara penuh semerbak aroma daging, tangan-tangan saling berbagi daging kurban, dan suara takbir menggema di seluruh penjuru negeri. Namun, ada pemandangan yang menyedihkan. Banyak kaum muslimin — bahkan yang menjadi panitia kurban — terlalu sibuk mengurusi pelaksanaan kurban sampai-sampai meremehkan adzan, atau bahkan meninggalkan shalat berjamaah, lebih parah lagi: meninggalkan shalat sama sekali.

Sungguh ironis. Iblis memang lihai. Ia tidak menggoda manusia untuk berhenti beramal, tapi menyesatkan mereka dengan menyibukkan pada ibadah sunnah lalu membuat lalai dari yang wajib.



Shalat, Pembeda antara Muslim dan Kafir

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

> "العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ"
“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir.”[^1]



Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullāh berkata:

> “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, maka ia adalah seorang yang telah sesat, dan wajib untuk diperingatkan.”[^2]





Kurban Tidak Menggugurkan Kewajiban Shalat

Penting kita pahami: berkurban adalah ibadah yang agung, tapi tidak bisa menggantikan kedudukan shalat yang wajib. Bahkan seandainya seluruh panitia kurban bekerja keras sepanjang hari, tidak ada satu pun alasan syar‘i untuk meninggalkan shalat lima waktu.

Allāh Subhānahu wa Ta‘ālā berfirman:

> إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَٰبٗا مَّوۡقُوتٗا
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Nisā’: 103)





Hari Tasyrik: Hari Berdzikir dan Bukan Lalai

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

> "أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ"
“Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.”[^3]



Imam An-Nawawi rahimahullāh menjelaskan:

> “Dzikir kepada Allah dalam hadits ini mencakup takbir, tahlil, tahmid, menyebut nama Allah ketika menyembelih, dan tentu saja shalat.”[^4]





Teguran untuk Panitia Kurban

Wahai para panitia kurban — semoga Allah memberi kalian pahala dan kekuatan — jangan sampai kalian menunda shalat demi urusan logistik, meninggalkan shalat berjamaah demi mengatur daging, atau bahkan meninggalkan shalat karena terlalu sibuk di tempat penyembelihan.

Ingatlah hadits ini:

> "مَا بَيْنَ الْكُفْرِ وَالْإِيمَانِ تَرْكُ الصَّلَاةِ"
“Batas antara kekafiran dan keimanan adalah meninggalkan shalat.”[^5]



Apakah kita ingin menukar keimanan kita demi satu potong daging? Na‘ūdzu billāh!



Penutup: Dahulukan Hak Allah

Allāh berfirman:

> فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ • ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.”
(QS. Al-Mā‘ūn: 4–5)



Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang lalai dalam menunaikan shalat, terutama di hari-hari mulia seperti hari tasyrik. Semoga Allah menerima kurban kita, dan terlebih lagi menerima shalat kita — karena itulah ibadah yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat.


Footnote

[^1]: HR. Tirmidzi no. 2621, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi.

[^2]: Majmū‘ Rasā’il Ibn Rajab, 1/20, dinukil dari riwayat Imam Ahmad.

[^3]: HR. Muslim no. 1141.

[^4]: Syarh Muslim karya Imam An-Nawawi, 8/18.

[^5]: HR. Muslim no. 82.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Aneh Jika Iran Menyerang Total Yahudi?

Hari Raya dalam Islam: Antara Kesempurnaan Syariat dan Bahaya Tasyabbuh kepada Yahudi dan Nasrani

Serial Bantahan Ilmiah: Kutipan Palsu atas Nama ‘Ali bin Abi Thalib (Bagian 1)