Hari Puasa Arafah Sudah Terang Benderang Penentuannya dari Zaman ke Zaman

Jawaban Ilmiah terhadap Syubhat:

“Bagaimana Mungkin Orang Dahulu Tahu Hari Wukuf?”

Sebagian orang menolak pendapat puasa Arafah mengikuti waktu wukuf di Arafah dengan berkata:

> “Kalau kita puasa Arafah berdasarkan waktu wukuf di Arafah, lalu bagaimana dengan orang-orang di zaman dahulu yang tidak punya akses ke informasi seperti kita sekarang? Bukankah mereka tidak tahu kapan jamaah haji sedang wukuf? Maka sudah sewajarnya dari dulu sampai sekarang puasa Arafah tetap mengikuti hilal di masing-masing negeri.”



Jawaban: Kita Beribadah Berdasarkan Kondisi Zaman Kita, Bukan Mereka

Pertanyaan mendasarnya adalah:
“Apakah kita berpuasa Arafah untuk zaman dahulu atau untuk diri kita saat ini?”
Jawabannya jelas: untuk diri kita yang hidup di zaman ini.

Allah ﷻ berfirman:

> لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. al-Baqarah: 286)



Maka, apa yang dahulu sulit untuk diketahui, bukan berarti harus tetap sulit sekarang.
Zaman berubah, sarana berubah, dan kemudahan itu adalah karunia dari Allah. Maka tugas kita adalah mensyukuri nikmat kemudahan itu dengan memanfaatkannya dalam ibadah, bukan mengabaikannya.




Orang Dahulu Tidak Tahu Hari Wukuf? Tidak Selamanya Benar

❶ Sebagian besar umat Islam sejak abad awal telah menjadikan Makkah sebagai pusat kalender dan ibadah.
Misalnya, para ulama dan penguasa Islam di abad ke-3 dan ke-4 Hijriyah banyak yang mengutus kurir atau saksi dari jamaah haji untuk membawa kabar penetapan wukuf dan Idul Adha — tentu dengan metode sesuai kemampuan zaman itu.

❷ Waktu wukuf bukan rahasia. Bahkan pada masa silam pun para jamaah haji dari berbagai negeri datang ke Makkah lebih awal dan bisa mengirim kabar (melalui utusan atau surat resmi).

Maka dalih “tidak tahu hari wukuf” di zaman dahulu itu terlalu disederhanakan. Bahkan, andai pun benar ada yang tidak tahu, maka mereka tidak berdosa — karena Allah tidak membebani sesuatu yang di luar jangkauan mereka.




Karunia Informasi Saat Ini Adalah Nikmat, Bukan Penghalang

Hari ini, Allah mudahkan kita untuk mengetahui hari wukuf dengan pasti dan akurat — bahkan detiknya pun kita bisa tahu.

Ini nikmat besar! Mengapa nikmat ini justru dijadikan alasan untuk menolak pendapat yang kuat secara dalil dan makna (yaitu puasa Arafah = saat wukuf Arafah)?

Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

> إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى عَزَائِمُهُ
“Sesungguhnya Allah suka jika rukhsah-Nya diambil sebagaimana Dia suka jika azimah-Nya diambil.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Hibban – shahih)



Maka mengikuti kemudahan informasi yang Allah sediakan hari ini adalah bentuk syukur, bukan penyimpangan.




Allah Maha Mengatur Umat di Setiap Zaman

Kalaupun dahulu ada umat Islam yang tidak tahu kapan tepatnya hari wukuf, itu tidak menjadikan dalil “shaumi yaumi ‘Arafah” menjadi kabur. Justru kita katakan:

> “Allah Maha Mengetahui bagaimana mempertemukan antara waktu ibadah hamba dengan peristiwa syar‘i yang ditentukan, baik melalui sebab atau tanpa sebab.”



Sebagaimana Allah mampu:

Menyampaikan wahyu dengan cara yang sempurna,

Menjaga al-Qur’an dan sunnah,

Menentukan malam Lailatul Qadar walaupun tersembunyi waktunya,


...maka Allah juga mampu menyampaikan kabar tentang waktu wukuf kepada siapa yang dikehendaki-Nya.



Penutup

Pendapat bahwa puasa Arafah mengikuti waktu wukuf Arafah tetap kuat secara dalil dan makna.
Adapun keterbatasan zaman dahulu bukan alasan untuk membatasi ibadah umat Islam zaman sekarang, justru kemajuan hari ini adalah kemudahan dari Allah untuk kita memaksimalkan ibadah.

> اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُ القَوْلَ فَيَتَّبِعُ أَحْسَنَهُ




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Aneh Jika Iran Menyerang Total Yahudi?

Hari Raya dalam Islam: Antara Kesempurnaan Syariat dan Bahaya Tasyabbuh kepada Yahudi dan Nasrani

Serial Bantahan Ilmiah: Kutipan Palsu atas Nama ‘Ali bin Abi Thalib (Bagian 1)