Apakah Takbir Tambahan dalam Shalat Id Disertai Angkat Tangan? Telaah Ilmiah Berdasarkan Sunnah dan Pendapat Ulama
Pendahuluan
Shalat Idul Fitri dan Idul Adha adalah syiar besar dalam Islam. Salah satu kekhususan dalam pelaksanaannya adalah adanya takbir tambahan: tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua, sebagaimana dalam riwayat-riwayat shahih.
Namun, muncul pertanyaan penting: Apakah setiap takbir tersebut disertai dengan mengangkat tangan seperti takbiratul ihram? Artikel ini mengkaji secara ilmiah dengan merujuk kepada nash syar’i dan pendapat para ulama.
Dalil-Dalil Tentang Jumlah Takbir dalam Shalat Id
Dari ‘Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُكَبِّرُ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى فِي الْأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسَ تَكْبِيرَاتٍ، سِوَى تَكْبِيرَتَيِ الرُّكُوعِ
(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah; dishahihkan oleh Al-Albani)
Makna: Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bertakbir pada shalat Idul Fitri dan Idul Adha pada rakaat pertama sebanyak 7 kali, dan pada rakaat kedua 5 kali, tidak termasuk takbir rukuk.
➤ Tidak ada penyebutan bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangan dalam setiap takbir tersebut.
Penjelasan Para Ulama Ahlus Sunnah
1. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
Dalam Zādul Ma‘ād (1/425), beliau berkata:
ولم يُحفظ عنه ﷺ في حديث صحيح أنه كان يرفع يديه مع كل تكبيرة
“Tidak ada hadits shahih yang diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ mengangkat tangan pada setiap takbir.”
2. Asy-Syaukani rahimahullah
Dalam Nayl al-Awthār (3/297):
ولم يثبت أنه ﷺ كان يرفع يديه مع هذه التكبيرات
“Tidak tetap (tsabit) bahwa Nabi ﷺ mengangkat tangan bersama takbir-takbir ini.”
3. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah
Dalam Ahkāmul Janā’iz (hal. 278):
رفع اليدين مع كل تكبيرة لم يثبت عن النبي ﷺ
“Mengangkat tangan pada setiap takbir tidaklah tsabit dari Nabi ﷺ.”
Tarjih: Tidak Mengangkat Tangan Kecuali pada Takbiratul Ihram
Berdasarkan dalil dan perkataan ulama di atas, maka:
Yang tsabit (pasti) dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam hanyalah pengucapan takbir (7 dan 5 kali).
Tidak ada dalil shahih yang menyebut Nabi mengangkat tangan setiap takbir dalam shalat Id.
Bagaimana dengan Ulama Mazhab Syafi’i?
Sebagian ulama Syafi’iyyah seperti Imam An-Nawawi dalam al-Majmū‘ (5/23) menyebut:
يُسْتَحَبُّ رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي كُلِّ تَكْبِيرَةٍ
“Disunnahkan mengangkat tangan pada setiap takbir.”
Namun pendapat ini tidak berdasarkan hadits Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, melainkan qiyās (analogi) kepada takbir perpindahan gerakan (seperti takbir saat rukuk atau i’tidal). Ini bertentangan dengan kaidah ushul Imam Asy-Syāfi‘ī rahimahullah yang mengatakan:
لا قياس في العبادات
“Tidak ada qiyās dalam ibadah.”
➤ Maka, penyandaran angkat tangan dalam setiap takbir shalat Id kepada Imam Asy-Syāfi‘ī secara langsung tidak tepat. Itu adalah ijtihad sebagian pengikut mazhab beliau.
Kesimpulan
Yang lebih kuat dan lebih selamat adalah mengikuti yang pasti dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, yaitu mengucapkan takbir saja tanpa mengangkat tangan, kecuali pada takbiratul ihram.
Mengangkat tangan pada takbir tambahan adalah ijtihad yang tidak berdalil shahih, dan bertentangan dengan kaidah "tidak boleh qiyās dalam ibadah".
Penutup
Sebagai seorang muslim yang mencintai Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, sudah sepatutnya kita meneladani ibadah beliau sebagaimana adanya, tidak menambah dan tidak mengurangi. Maka dalam perkara ini, mengikuti sunnah Nabi yang tidak mengangkat tangan pada setiap takbir tambahan dalam shalat Id adalah bentuk ittibā’ (mengikuti) yang benar dan selamat. Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas sunnah dan menjauhkan kita dari kebiasaan yang tidak berdalil. Wallāhul muwaffiq.
Referensi:
1. Zādul Ma‘ād – Ibnul Qayyim
2. Nayl al-Awthār – Asy-Syaukani
3. Ahkāmul Janā’iz – Syaikh Al-Albani
4. Al-Majmū‘ – Imam An-Nawawi
5. Sunan Abu Dawud, Ibnu Majah (riwayat dari Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā)
Komentar
Posting Komentar