Tertawa Dulu dan Nanti

 


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ


Pendahuluan


Segala puji hanya bagi Allah, Rabb yang menghidupkan hati dengan nasihat dan peringatan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabatnya, dan seluruh pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.


Renungan berikut ini adalah sebuah pengingat tentang kelucuan masa lalu dan ironi masa depan yang menanti bila kita tidak segera mengambil pelajaran.



---


🌱 Refleksi Diri: Tertawa atas Diri Sendiri


Hari ini, kita sering tertawa saat mengenang masa kecil.

Bagaimana kita dulu berebut mainan dengan teman kecil, marah hanya karena giliran bermain tidak adil, menangis karena hal-hal yang sekarang terlihat sangat sepele.


Itu semua menggelikan bagi kita yang telah dewasa.

Karena ternyata, apa yang dulu kita anggap penting sekali, kini tak ada artinya sama sekali.


Namun, ada pemandangan lain yang jauh lebih lucu — dan jauh lebih tragis — yang akan terjadi di akhirat nanti.


Yaitu ketika kita melihat kembali hidup kita di dunia…



---


📌 Mengejar Dunia, Tapi Lupa Akhirat


Di akhirat, kita akan melihat betapa dulu kita sangat serius mengejar dunia.

Kita bekerja siang malam tanpa lelah demi menumpuk harta, memperluas bisnis, menambah aset.

Kita merasa harus selalu “lebih” dari orang lain — lebih kaya, lebih terkenal, lebih tinggi jabatannya.


Namun semua itu, pada akhirnya...


> ❌ Tidak ikut masuk kubur.

❌ Tidak dibawa ke alam barzakh.

❌ Tidak menambah kedekatan kita kepada Allah.




Dan di situlah, kita akan mentertawakan diri kita sendiri —

Betapa kita pernah serius, bahkan mati-matian, mengejar sesuatu yang akan ditinggalkan tanpa sisa.



---


📖 Firman Allah Ta’ālā:


> ﴿ أَلْهَىٰكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ﴾

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur."

— (QS. At-Takātsur: 1–2)




📌 Tafsir ringkas ayat ini:


At-takātsur = saling berbangga dalam harta, keturunan, dan dunia.


Alhākum = melalaikanmu dari ketaatan dan akhirat.


Zurtum al-maqābir = kamu baru tersadar setelah mati.




---


Penutup


Sungguh, dunia ini hanyalah persinggahan sementara.

Dan yang akan kita bawa menghadap Allah bukanlah rekening tabungan, sertifikat tanah, atau gelar akademis.

Tapi yang kita bawa hanyalah iman dan amal saleh.


💡 Maka, sebelum datang hari di mana kita hanya bisa menyesal dan mentertawakan diri sendiri, mari gunakan waktu hidup ini sebaik-baiknya untuk beribadah dan memperbanyak bekal akhirat.


> 🌾 “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing, atau orang yang sekadar menyeberang jalan.”

— (HR. al-Bukhari no. 6416)




والله المستعان، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.



---







Abu Aisyah As-Sabtiyah

Bandung, 29 Mei 2025 M / 2 Dzul Hijjah 1446 H



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Aneh Jika Iran Menyerang Total Yahudi?

Hari Raya dalam Islam: Antara Kesempurnaan Syariat dan Bahaya Tasyabbuh kepada Yahudi dan Nasrani

Serial Bantahan Ilmiah: Kutipan Palsu atas Nama ‘Ali bin Abi Thalib (Bagian 1)