TENTANG PUASA 9 HARI BERTURUT-TURUT DI AWAL DZUL HIJJAH

Menimbang Keabsahan (legalitas) Puasa Sembilan Hari Berturut-Turut di Awal Dzulhijjah: Antara Keutamaan Umum dan Pembatasan yang Tidak Berdalil


~Pendahuluan

Segala bentuk ibadah dalam Islam harus dilandaskan pada dalil yang sah dan diterima dari syariat Allah. Adapun ibadah tanpa dalil yang sah adalah tertolak sebagaimana sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam:

> "من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد"

“Barang siapa mengada-adakan dalam perkara agama kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka itu tertolak.”

(HR. al-Bukhārī no. 2697 dan Muslim no. 1718)


Dalam konteks ini, pembahasan akan difokuskan pada praktik sebagian kaum muslimin yang berpuasa berturut-turut dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah sebagai kebiasaan tahunan yang dianggap mustahab.



---


~Kaidah Ushūliyyah: Asal dalam Ibadah Adalah Tauqīfiyyah

Imam ash-Shan‘ānī rahimahullah berkata:

> الأصل في العبادات التوقيف، فلا يشرع منها إلا ما شرعه الله ورسوله

“Asal dalam ibadah adalah tauqīf (berdasarkan dalil), maka tidak disyariatkan kecuali apa yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.”

(Lihat Subul as-Salām, 1/12)

Maka tidak boleh mengkhususkan waktu, jumlah, atau bentuk ibadah tertentu kecuali berdasarkan dalil syar‘i.



---


~Dalil-Dalil Keutamaan 10 Hari Dzulhijjah


1. Firman Allah:


> وَالْفَجْرِ • وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.”

(QS. al-Fajr: 1–2)


Ibnu ‘Abbās, Mujāhid, Qatādah, dan mayoritas mufassir menyatakan bahwa “malam yang sepuluh” adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

(Lihat: Tafsīr Ibn Kathīr, 8/390)


2. Hadits Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā:


> "ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام، يعني أيام العشر"

“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada amal pada hari-hari ini (sepuluh hari Dzulhijjah).”

(HR. al-Bukhārī no. 969)




~Catatan: Dalil-dalil ini bersifat umum, dan tidak menyebut secara khusus tata cara atau bentuk amal ibadah tertentu selain penyebutan umum "amal shalih".



---


~Hadits-Hadits Tentang Puasa Awal Dzulhijjah: Statusnya dan Penelaahan


1. Hadits dari Hafshah radhiyallāhu ‘anhā:


> "كان رسول الله يصوم تسع ذي الحجة، ويوم عاشوراء، وثلاثة أيام من كل شهر"

“Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa sembilan hari Dzulhijjah, hari ‘Āsyūrā’, dan tiga hari setiap bulan.”

(HR. Abu Dāwud no. 2437, Ahmad no. 26604)

Hadits ini diperselisihkan: sebagian menghasankannya, namun Imam an-Nasā’ī berkata: “Laisa bimahfūzh (tidak terjaga).” (lihat: al-Majmū’ 6/440)


Dan bahkan bertentangan dengan riwayat dari ‘Āisyah radhiyallāhu ‘anhā yang berkata:


> "ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم صائمًا في العشر قط"

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari itu sama sekali.”

(HR. Muslim no. 1176)


~Para ulama menjama’ bahwa kadang beliau berpuasa, kadang tidak, tetapi tidak ada riwayat shahih yang menunjukkan beliau puasa sembilan hari itu secara berturut-turut (mutatābi‘ah).



---


~Tidak Ada Atsar Sahabat Mengenai Puasa 9 Hari Berturut-Turut


Sebagaimana diketahui, para sahabat adalah orang yang paling semangat mengikuti sunnah Rasul shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Namun:


Tidak ditemukan satu atsar pun yang shahih dari sahabat seperti Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas‘ūd, Abu Hurairah, atau selain mereka, yang menyebutkan bahwa mereka berpuasa dari 1 hingga 9 Dzulhijjah secara berturut-turut.




---


~Mengkhususkan Tertib Ibadah Tanpa Dalil: Bid‘ah Idāfiyyah

Imam ash-Shāṭibī rahimahullah berkata:

> البدعة الإضافية: ما له أصل في الشرع، ولكن زيد فيه هيئة أو كيفية تخرج به عن أصل الشرع

“Bid‘ah idāfiyyah adalah sesuatu yang ada asalnya dalam syariat, tetapi ditambahkan padanya bentuk atau tata cara yang membuatnya menyimpang dari syariat.”

(Lihat: al-I‘tiṣām, 1/191)


~Puasa adalah ibadah syar‘i, namun jika dikaitkan dengan waktu dan pola tertentu (berturut-turut selama 9 hari) secara rutin tanpa dalil khusus, maka itu bentuk bid‘ah tambahan yang ditolak.



---


~Sikap Kehati-Hatian: Tidak Melakukan Tertib yang Tidak Berdalil


Berdasarkan hal di atas, maka:


Saya, wallāhu a‘lam, tidak memandang puasa 9 hari berturut-turut sebagai amalan sunnah yang dianjurkan secara khusus, karena:

! Tidak terdapat dalil yang tegas dan shahih dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam.


! Tidak didukung oleh atsar para sahabat.


! Dalil yang ada hanya bersifat umum, tidak bisa dijadikan dasar untuk mengikatkan ibadah puasa dalam bentuk dan pola tertib tersebut.


> “وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة”

“Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, setiap perkara baru adalah bid‘ah, dan setiap bid‘ah adalah kesesatan.”

(HR. Muslim no. 867)


---


~Penutup


Kehati-hatian dalam ibadah adalah jalan keselamatan. Tidak semua yang tampak baik menurut akal layak untuk dilakukan jika tidak ada nash dari Allah dan Rasul-Nya. Cinta kepada sunnah adalah dengan ittibā’ (mengikuti), bukan dengan ibtidā’ (mengada-ada).


Semoga Allah memberi kita taufiq untuk senantiasa mengikuti sunnah yang murni dan menjaga diri dari segala perkara yang diada-adakan dalam agama-Nya.



---





Abu Aisyah As-Sabtiyah
Bandung, 28 Mei 2025 M / 1 Dzul Hijjah 1446 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Aneh Jika Iran Menyerang Total Yahudi?

Hari Raya dalam Islam: Antara Kesempurnaan Syariat dan Bahaya Tasyabbuh kepada Yahudi dan Nasrani

Serial Bantahan Ilmiah: Kutipan Palsu atas Nama ‘Ali bin Abi Thalib (Bagian 1)