Perayaan Tahun Baru Hijriyah adalah Bid‘ah

(الاحتفال برأس السنة الهجرية بدعة)

Bismillah, walhamdulillah, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba‘d:

Kaum muslimin rahimakumullah,
Sudah menjadi fenomena tahunan bahwa setiap tanggal 1 Muharram, sebagian umat Islam ikut merayakan apa yang mereka sebut sebagai “Tahun Baru Islam” dengan berbagai bentuk acara: mulai dari pawai obor, doa bersama menyambut tahun baru, hingga membuat khutbah dan pengajian khusus dalam rangka "pergantian tahun". Padahal, semua itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, maupun para imam dari kalangan salafus shalih.

1. Tidak Ada Dalil yang Mensyariatkannya

Syari‘at Islam adalah agama yang sempurna, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

> ﴿ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ ﴾
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian..."
(QS. Al-Ma’idah: 3)



Perayaan tahun baru Hijriyah tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau telah menjelaskan seluruh ajaran agama hingga hal yang kecil sekalipun. Jika perayaan ini baik dan berpahala, tentu beliau akan mendahului kita dalam mengerjakannya.

Imam Malik rahimahullah berkata:

> مَن أحدث في هذه الأمة شيئًا لم يكن عليه سلفها فقد زعم أن محمدًا خان الرسالة
"Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam agama ini yang tidak dilakukan oleh salaf umat ini, maka ia telah menuduh Muhammad telah mengkhianati risalah."
(Al-I‘tisam, Imam Asy-Syathibi)



2. Kalender Hijriyah Baru Ditentukan di Masa Umar bin Al-Khaththab

Kalender Hijriyah bukan berasal dari masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi baru ditetapkan di masa Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Beliau memerintahkan agar perhitungan tahun Islam dimulai dari tahun hijrahnya Nabi ke Madinah. Namun, penetapan ini bersifat administratif, bukan untuk dirayakan atau dibuat acara khusus.

Seandainya para sahabat menganggap bahwa tanggal 1 Muharram perlu diperingati, niscaya mereka orang pertama yang melakukannya. Namun ternyata tidak ada satu pun riwayat shahih bahwa mereka melakukan perayaan seperti itu.

3. Semua Perayaan yang Tidak Ada Dasarnya adalah Bid‘ah

Perayaan tahun baru Hijriyah adalah bid‘ah dalam agama, karena tidak ada asalnya dalam syariat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

> من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
"Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami ini yang bukan darinya, maka ia tertolak."
(HR. Bukhari dan Muslim)



4. Tidak Ada Hari Raya dalam Islam Kecuali Dua

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan bahwa dalam Islam hanya ada dua hari raya, yaitu:

1. Hari Raya ‘Idul Fithri


2. Hari Raya ‘Idul Adha



Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

> إنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا، وَهَذَا عِيدُنَا
"Setiap kaum memiliki hari raya, dan inilah hari raya kita."
(HR. Bukhari dan Muslim)



Selain kedua hari raya itu, tidak boleh diada-adakan hari raya baru, termasuk "hari raya tahun baru hijriyah".

5. Doa Akhir dan Awal Tahun Tidak Shahih

Banyak kaum muslimin yang membacakan doa khusus akhir dan awal tahun yang berbunyi:

"اللهم ما عملتُ في هذه السنة من عملٍ..."
atau
"اللهم اجعل هذا العام عامًا خيرًا وبركة..."

Namun, tidak ada satupun hadits shahih yang meriwayatkan doa-doa tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak pula dari para sahabat maupun tabi‘in. Maka mengamalkannya dengan keyakinan bahwa itu dianjurkan adalah bagian dari bid‘ah.

6. Fatwa Ulama tentang Larangan Merayakan Tahun Baru Hijriyah

• Al-Lajnah Ad-Da'imah (Komite Fatwa Saudi Arabia) menyatakan:

> "Tidak dibenarkan mengadakan perayaan pergantian tahun Hijriyah, karena hal itu termasuk dalam perkara bid‘ah yang diada-adakan dalam agama."
(Fatawa Al-Lajnah, 3/88)



• Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

> الاحتفال برأس السنة الهجرية لا أصل له، وهو من البدع المحدثة
"Perayaan tahun baru hijriyah tidak ada asalnya, ia termasuk bid‘ah yang diada-adakan."
(al-Muntaqa min Fatawa al-Fauzan)



Penutup: Waspadalah terhadap Bid‘ah

Bid‘ah bukanlah hal ringan. Bahkan dalam agama, bid‘ah lebih ditakuti para ulama salaf daripada maksiat, karena pelaku maksiat masih merasa bersalah, sedangkan pelaku bid‘ah merasa sedang beribadah!

Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:

> البدعة أحب إلى إبليس من المعصية، لأن المعصية يُتَاب منها، والبدعة لا يُتَاب منها
"Bid‘ah lebih dicintai oleh Iblis daripada maksiat. Karena maksiat masih bisa ditaubati, sedangkan bid‘ah tidak."
(Dinukil dalam Al-I‘tisam)



Maka marilah kita menjauh dari segala bentuk perayaan yang tidak disyariatkan, termasuk perayaan tahun baru Hijriyah. Hendaknya kita memulai tahun baru dengan memperbanyak taubat, muhasabah, dan memperbaiki amal, tanpa ritual-ritual baru yang tidak pernah ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wallahu a‘lam.


Komentar