Bahaya Ta'wil Batil dalam Memahami Al-Qur'an dan Sunnah

Dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, umat Islam wajib berpegang pada manhaj salaf, yaitu mengikuti pemahaman para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Salah satu penyimpangan yang sangat berbahaya dalam memahami nash-nash syar'i adalah melakukan ta'wil batil, yaitu menakwilkan ayat atau hadits dengan makna yang menyimpang dari makna yang dimaksud oleh Allah dan Rasul-Nya.

Pengertian Ta'wil

Secara bahasa, "ta'wil" (التأويل) berasal dari kata أ و ل yang berarti "mengembalikan sesuatu kepada asal atau tujuannya". Secara istilah, ta'wil bisa memiliki dua makna:

  1. Ta'wil shahih: penafsiran yang benar yang sesuai dengan makna yang dikehendaki oleh syariat.

  2. Ta'wil batil: penafsiran yang menyimpang dari makna zhahir dan maksud syar'i, seringkali didasarkan pada akal atau pemikiran asing terhadap Islam.

Yang dilarang dan dikritik keras oleh para ulama salaf adalah ta'wil batil, karena ia merusak kemurnian aqidah dan membuka pintu kepada pemikiran sesat.

Kutipan Ulama Salaf tentang Bahaya Ta'wil Batil

1. Imam al-Awza'i رحمه الله berkata:

"كَانُوا يَقُولُونَ: انْزِلُوا الآيَاتَ فِي الصِّفَاتِ كَمَا جَاءَتْ، بِلَا كَيْفٍ"

"Dahulu mereka (para salaf) mengatakan: 'Tetapkanlah ayat-ayat tentang sifat sebagaimana datangnya, tanpa mempertanyakan bagaimana (kaifiyyahnya).'"

(Al-Bayhaqi dalam al-Asma’ wa as-Shifat no. 515)

2. Imam Malik رحمه الله ketika ditanya tentang istiwa’, menjawab:

"الِاسْتِوَاءُ مَعْلُومٌ، وَالْكَيْفُ مَجْهُولٌ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ"

"Istiwa’ itu diketahui (maknanya), kaifiyyah-nya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah."

(Diriwayatkan oleh al-Laalka’i)

3. Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata:

"نُؤْمِنُ بِهَا، وَنُصَدِّقُهَا، بِلَا كَيْفٍ وَلَا مَعْنًى"

"Kami mengimani (ayat-ayat sifat) tersebut, dan membenarkannya, tanpa menanyakan bagaimana dan tanpa menyimpangkan maknanya."

(Ibṭāl at-Ta’wīlāt no. 184)

4. Imam al-Shafi'i رحمه الله berkata:

"آمَنْتُ بِاللَّهِ وَبِمَا جَاءَ عَنْ اللَّهِ عَلَى مَرَادِ اللَّهِ، وَآمَنْتُ بِرَسُولِ اللَّهِ وَبِمَا جَاءَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ عَلَى مَرَادِ رَسُولِ اللَّهِ"

"Aku beriman kepada Allah dan kepada apa yang datang dari Allah sesuai dengan maksud Allah. Aku beriman kepada Rasulullah dan kepada apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan maksud Rasulullah."

(al-Hilyah, 9/106)

5. Ibnu Qudamah رحمه الله menjelaskan:

"وأما التأويل الذي يسلكه أهل البدعة، فيرد به نصوص الصفات، ويحرف الكلم عن مواضعه، فهذا الذي ذمه السلف، وأنكروه"

"Adapun ta’wil yang ditempuh oleh ahlul bid’ah, yang dengannya mereka menolak nash-nash sifat dan menyimpangkan kalimat dari tempatnya, inilah yang dikecam oleh salaf dan mereka ingkari."

(Lum‘ah al-I‘tiqād, hal. 8)

Penutup

Melakukan ta'wil batil terhadap ayat-ayat sifat Allah atau nash syar'i lainnya merupakan penyimpangan besar dari jalan yang ditempuh oleh para sahabat dan generasi terbaik umat ini. Jalan keselamatan adalah menerima nash sebagaimana datangnya, tanpa menyimpangkan makna dan tanpa mendahulukan akal atas wahyu. Semoga Allah menetapkan kita di atas aqidah yang benar dan mematikan kita di atas manhaj salaf.

Wallahu a'lam.

Komentar