Mengungkap Beberapa Tokoh Sebagai Akar Sesatnya Dari Sebuah Firqah
Mereka yang Tersesat: Kisah dan Latar Belakang Tokoh-tokoh Pencetus Firqah Sesat
> “Hendaklah kamu berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk. Gigitlah dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara-perkara baru dalam agama, karena setiap perkara baru adalah bid‘ah, dan setiap bid‘ah adalah kesesatan.”
(HR. Abu Dawud no. 4607 – Shahih)
Dalam sejarah awal Islam, muncul beberapa tokoh yang menyimpang dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan menjadi pencetus firqah-firqah sesat yang pengaruhnya terasa hingga hari ini. Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah:
1. Ja’d bin Dirham
2. Ma’bad al-Juhani
3. Washil bin ‘Atha’
4. Bisyir bin Ghiyaats al-Mariisi
Lalu, bagaimana kisah dan latar belakang mereka hingga tergelincir dalam kesesatan? Berikut ulasan ringkasnya berdasarkan keterangan ulama salaf rahimahumullah.
---
1. Ja’d bin Dirham (الجعد بن درهم)
Pencetus: Akar Jahmiyyah – Mengingkari sifat-sifat Allah
Asal: Nasibin atau Khurasan.
Belajar dari: Labid bin A‘sham (dukun Yahudi) atau Aban bin Sam‘an.
Ajarannya:
Allah tidak berbicara kepada Musa ‘alaihis salam.
Ibrahim ‘alaihis salam bukan Khalilullah.
Menolak sifat-sifat Allah secara keseluruhan (ta’thil).
Akhir hayat:
Dibunuh pada hari Idul Adha oleh Khalid bin ‘Abdillah al-Qasri, Gubernur Irak. Ia berkata:
> “Wahai manusia, berkurbanlah! Aku berkurban dengan Ja’d bin Dirham karena ia mengatakan bahwa Allah tidak menjadikan Ibrahim sebagai kekasih dan tidak berbicara kepada Musa.”
---
2. Ma’bad al-Juhani (معبد الجهني)
Pencetus: Qadariyyah – Mengingkari takdir
Kota: Bashrah, Irak.
Belajar dari: Sinbuya an-Nashrani, seorang Kristen yang menyebarkan filsafat.
Ajarannya:
Allah tidak menciptakan perbuatan hamba.
Manusia menciptakan perbuatannya sendiri.
Dihukumi sesat oleh para sahabat Nabi.
Pernyataan Sahabat:
‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
> “Katakan kepada mereka (Qadariyyah), aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Kalau salah satu dari mereka bersedekah emas sebesar Uhud, tidak akan diterima sampai mereka beriman kepada takdir.”
(HR. Muslim no. 8)
---
3. Washil bin ‘Atha’ (واصل بن عطاء)
Pencetus: Mu’tazilah – Mengedepankan akal di atas nash
Murid dari: Hasan al-Bashri rahimahullah.
Memisahkan diri dari majelis gurunya karena tidak sepakat tentang hukum pelaku dosa besar.
Ajaran utamanya:
Pelaku dosa besar bukan mukmin dan bukan kafir.
Mengedepankan logika dan penakwilan terhadap nash.
Dari sikapnya memisahkan diri itulah muncul istilah Mu’tazilah (yang mengasingkan diri).
---
4. Bisyir bin Ghiyaats al-Mariisi (بشر بن غياث المريسي)
Pencetus: Penyebar Jahmiyyah & Kalam – Mengatakan Al-Qur’an makhluk
Hidup di era Abbasiyah.
Terpengaruh logika Yunani dan ilmu kalam.
Menjadi tokoh besar dalam menyebarkan aqidah bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.
Mengingkari sifat-sifat Allah dengan logika.
Dikecam para ulama besar:
Imam Syafi’i rahimahullah berkata:
> “Tidak ada musibah yang lebih besar bagi umat Islam dari Bisyir al-Mariisi.”
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah melawannya dalam Fitnah Khalq al-Qur’an.
---
Urutan Kesesatan Berdasarkan Kronologi
No. Nama Tokoh Wafat Firqah yang Dicetuskan Penyebab Kesesatan
1️⃣ Ja’d bin Dirham ~118 H Akar Jahmiyyah Terpengaruh filsafat dan Yahudi
2️⃣ Ma’bad al-Juhani ~80-an H Qadariyyah Belajar dari Nasrani, menolak takdir
3️⃣ Washil bin ‘Atha’ 131 H Mu’tazilah Mengedepankan akal dari nash
4️⃣ Bisyir al-Mariisi 218 H Jahmiyyah, Mu’tazilah Menyebarkan kalam dan logika Yunani
> Catatan: Secara kemunculan Ma'bad lebih dahulu menyebar, namun penyimpangan Ja’d lebih awal dari sisi asal pemikiran dan pengaruhnya lebih luas (melahirkan Jahmiyyah dan Mu’tazilah).
---
Penutup: Pelajaran dari Sejarah
Kesalahan mereka bukan hanya karena kekeliruan dalam ijtihad, tetapi karena menyimpang dari jalan sahabat, mengikuti hawa nafsu, dan mengutamakan akal dari wahyu. Maka berhati-hatilah dengan pemikiran:
Yang asing dari pemahaman salaf,
Yang membungkus kesesatan dengan dalih logika atau keadilan,
Yang menyeret pada takwil batil dan penolakan terhadap nash.
Berkata Imam al-Awza’i rahimahullah:
> “Bersabarlah di atas sunnah. Berpeganglah kepadanya. Jangan engkau menoleh kepada pendapat-pendapat orang, meskipun mereka menghiasi perkataannya dengan kata-kata indah.”
---
Referensi Singkat:
Syarh Ushul I‘tiqad Ahlis Sunnah – al-Lalika’i
al-Maqalat – Abu al-Hasan al-Ashfahani
al-Farq baina al-Firaq – Abdul Qahir al-Baghdadi
Siyar A‘lam an-Nubala’ – Imam adz-Dzahabi
Dar’u Ta‘arudh al-‘Aql wa an-Naql – Ibn Taimiyyah
Komentar
Posting Komentar