Diamnya Seorang Berilmu di Tengah Fitnah Lebih Selamat



๐ŸŒŸ Nasihat Hikmah:


"Diamnya seorang yang berilmu terhadap peristiwa yang dapat memicu fitnah—ketika ia tahu bahwa berbicara tidak membawa maslahat yang jelas—adalah lebih selamat dan lebih bermanfaat bagi umat, dibandingkan ribuan orang yang jahil (minim ilmu) yang berbicara dan bergerak tanpa panduan ilmu, lalu menyeret manusia pada arus keburukan dan kerusakan yang lebih luas."


๐ŸŽฏ Karena berbicara tanpa ilmu di saat terjadi fitnah tidak hanya menyesatkan diri sendiri, tapi bisa menjadi sebab tersesatnya banyak manusia lainnya. Maka, diam dengan ilmu lebih selamat dan lebih bernilai daripada suara gaduh tanpa petunjuk.



---


๐Ÿ“Œ Penjelasan dan Dalil-Dalil Penguat:


1. Diam adalah bentuk kehati-hatian dalam menjaga lisan, terutama saat fitnah.


Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:


> "ูƒูู‰ ุจุงู„ู…ุฑุก ุฅุซู…ุงً ุฃู† ูŠุญุฏุซ ุจูƒู„ ู…ุง ุณู…ุน."

"Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menceritakan semua yang ia dengar."

(HR. Muslim no. 5)




๐Ÿ”Ž Dalam riwayat ini terdapat peringatan agar seseorang tidak ikut-ikutan menyebarkan informasi, terlebih jika belum jelas kebenarannya. Karena itulah, orang berilmu memilih diam ketika melihat potensi fitnah.





---


2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


> "ู…ู† ูƒุงู† ูŠุคู…ู† ุจุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ูŠูˆู… ุงู„ุขุฎุฑ ูู„ูŠู‚ู„ ุฎูŠุฑุงً ุฃูˆ ู„ูŠุตู…ุช."

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam."

(HR. al-Bukhari no. 6018, Muslim no. 47)




๐Ÿ’ก Maka diam dengan niat menjaga keselamatan agama dan umat adalah pilihan orang-orang beriman.





---


3. Ketika terjadi fitnah, para ulama salaf justru menahan diri dan tidak ikut menyuarakan apa yang tidak mereka yakini kebenarannya.


Dari Imam al-Auza’i rahimahullah, beliau berkata:


> "ุฅุฐุง ูˆู‚ุนุช ุงู„ูุชู†ุฉ ูุงู„ุฒู… ุฌูˆูَ ุจูŠุชูƒ."

"Jika fitnah terjadi, maka tetaplah berada di dalam rumahmu (diam dan hindari keterlibatan tanpa ilmu)."

(Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd, no. 307)







---


4. Ucapan indah dari Sufyan ats-Tsauri rahimahullah:


> "ุงู„ุนุงู„ู… ูŠุชูƒู„ู… ุจุงู„ุนู„ู…، ูˆุงู„ุฌุงู‡ู„ ูŠุชูƒู„ู… ุจุงู„ู‡ูˆู‰."

"Orang berilmu berbicara dengan ilmu, sedangkan orang bodoh berbicara dengan hawa nafsu."

(Lihat Hilyatul Awliya, 7/32)




๐Ÿ“š Inilah sebabnya, diamnya orang berilmu lebih mendidik dan menyelamatkan, dibanding ucapan orang-orang jahil yang membakar umat.






๐Ÿ”’ Penutup:


Wahai saudaraku, jangan engkau kira bahwa diamnya orang yang berilmu berarti takut atau lemah, justru itu adalah bentuk dari kekuatan ilmu, warisan hikmah, dan sikap wara’ yang tinggi. Sebaliknya, suara gaduh dari orang-orang yang tidak punya ilmu hanyalah memancing kekacauan dan memperluas kerusakan, walau tampaknya penuh semangat dan membela "kebenaran".


๐Ÿ“Œ Maka, jadilah kita penuntut ilmu yang santun, sabar, dan cermat, terlebih saat badai fitnah datang dari segala arah. Ketahuilah, menahan lisan lebih berat daripada menahan lapar, namun di dalamnya terdapat keselamatan dunia dan akhirat.



---











Abu Aisyah As-Sabtiyah

Bandung, 29 Mei 2025 M / 2 Dzul Hijjah 1446 H


Komentar